Kamis, 18 Juli 2024

Umar bin Khattab ra

Umar ibn al-Khattab seorang sahabat Nabi dari suku Quraisy keturunan Bani Adi. Ayahnya bernama al-Khattab ibn Nufail ibn Abdil Uzza dan ibunya bernama Hantamah bint Hasyim ibn al-Mughirah. Umar menikahi Zainab bint Mazh‘un yang melahirkan untuknya dua orang anak, yaitu Abdullah ibn Umar dan Hafshah bint Umar—Ummul Mukminin. Karena itulah Umar dipanggil dengan nama Abu Hafsh.

Ajaran Islam mampu mengubah seseorang yang sangat buruk menjadi orang yang sangat baik; Islam mampu memberi cahaya hidayah ke dalam hati seseorang dan melunakkannya meskipun hati itu sekeras karang. Pada masa Jahiliah Umar dikenal sebagai orang yang sangat membenci Nabi saw. dan kaum muslim. Setiap waktu ia selalu ingin menyakiti mereka, apalagi ia merupakan salah seorang pemuka Quraisy.

Sebagai salah seorang pemuka Quraisy, Umar sering diutus untuk menghadapi satu kaum. Ketika kaum Quraisy sedang berperang melawan pihak lain, orang yang berada di barisan pertama Quraisy adalah Umar. Semakin hari, kebencian Umar kepada Muhammad semakin besar, seiring dengan semakin banyaknya orang Makkah yang memeluk Islam. Muncul keinginan untuk Rasulullah saw. dan keinginan itu terus dipupuknya hingga semakin kuat tak terbendung. Ia ingin agar kaum Quraisy terlepas dari gangguan Muhammad dan para pengikutnya yang dianggap telah merusak ketenteraman dan ketenangan mereka karena sering menghina agama dan tuhan-tuhan mereka.

Umar telah bertekad bulat untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Suatu hari, ia berjalan menyusuri jalanan Makkah dengan pedang terhunus. Niatnya hanya satu: mencari Muhammad dan membunuhnya. Namun, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nu‘aim ibn Abdillah yang menanyakan tujuannya. Ketika itu kemarahan telah emmenuhi dada Umar sehingga ia menjawab dengan kasar, “Aku akan membunuh pembawa ajaran baru ini. Dia telah merusak kehidupan kita. Aku ingin kaum Quraisy tidak lagi diresahkan oleh keberadaannya.”

Nu'aim berkata, “Demi Allah, sikapmu terlalu berlebihan, Umar. Apakah kaukira Bani Abdu Manaf akan berdiam diri jika kau membunuh Muhammad ? Bukankah lebih baik jika kautemui keluargamu sendiri dan meluruskan mereka ?” Umar bertanya heran, “Ada apa dengan keluargaku?”

Nu‘aim menjawab, “Demi Allah, adik iparmu, yaitu anak pamanmu Said ibn Zaid, dan adikmu sendiri, Fatimah, telah mengikuti agama Muhammad! Pergilah temui mereka dan cari tahu kebenarannya!”

Tentu saja amarah Umar ibn al-Khattab semakin bergejolak. Ia tersinggung dan murka mendengar kabar itu. Dengan langkah yang panjang dan cepat ia berjalan menuju rumah adiknya. Pada saat yang sama, Fatimah beserta suaminya sedang belajar ngaji kepada Khabbab ibn al-Urti. Ketika mendengar pintu diketuk dengan keras, Khabbab langsung bersembunyi. Penghuni rumah terkesiap dan kaget bukan kepalang ketika melihat Umar ibn al-Khattab berdiri di muka pintu mereka. Rasa takut segera merasuki dada Fatimah dan suaminya, Said. Namun, keduanya berupaya menenangkan diri dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Dengan suara yang keras penuh amarah Umar bertanya, “ Benarkah kalian berdua telah pindah agama dan mengikuti agama Muhammad ?”

Belum sempat pertanyaan itu dijawab, Umar berpaling kepada adik iparnya dan memukulnya bertubi-tubi hingga Said jatuh tersungkur. Fatimah bermaksud menolong suaminya, tetapi ia pun tak luput dari tamparan Umar hingga hidungnya berdarah. Melihat darah yang mengucur membasahi wajah Fatimah, kemarahan Umar reda. Ia menyesal dan merasa kasihan kepada adiknya. Setelah kemarahannya benar-benar reda, Umar minta adiknya memperlihatkan lembaran mushaf yang baru saja didengarnya sebelum mengetuk pintu rumah. Fatimah menjawab, “Kau tidak pantas menyentuhnya hingga kau bersuci lebih dulu.”

Umar mengikuti saran adiknya dan ia bersuci sesuai dengan cara-cara yang diajarakan Fatimah. Barulah kemudian Fatimah memberikan lembaran-lembaran mushaf itu. Setelah mushaf dibuka, ternyata firman Allah Swt.:

﴿ طه. مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى ﴾ سورة طه ۲۰

Tha ha. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agarkamu menjadi susah

Umar takjub menyaksikan keindahan bahasa Al-Quran sehingga terlontar ucapan, “Indah sekali perkataan ini dan betapa mulia.” Mendengar pengakuan Umar yang begitu tulus, Khabbab memberanikan diri keluar dari persembunyiannya, dan berkata kepada Umar, “Demi Allah, hai Umar, aku berharap engkaulah yang dimaksud dalam doa Nabi saw.: ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua lelaki yang lebih Engkau cintai, Umar ibn al-Khattab atau Amr ibn Hisyam (Abu Jahal ).”

Umar tersanjung dan merasa senang mendengar penuturan Khabbab tentang doa Rasuluilah saw. Kemudian ia menanyakan keberadaan Nabi saw. dan Khabbab menunjukkan rumah al-Arqam ibn Abu al-Arqam yang terletak di dekat bukit Shafa. Umar segera berangkat ke sana dan setibanya di depan pintu rumah itu ia langsung mengetuknya. Seorang lelaki melihatnya dan berkata kepada Rasuluilah saw., “Wahai Rasuluilah, di depan ada Umar ibn al-Khattab datang dengan pedang terhunus.”

Hamzah berkata, “Izinkan ia masuk, wahai Rasuluilah. Jika ia bermaksud baik, kami akan membiarkannya. Tetapi jika ia bermaksud jahat, kami akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri.” Rasuluilah saw. bersabda, “Izinkan ia masuk.”

Ketika Umar memasuki rumah, Rasuluilah saw. berdiri, mengencangkan ikat pinggang, lalu bertanya, “Apa yang membawamu datang ke sini, wahai putra al-Khattab? Demi Allah, aku melihatmu tidak pernah berhenti sampai Allah menurunkan bahaya besar kepadamu.” Dengan suara lemah Umar menjawab, “Aku datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pada ajaran yang dibawanya dari Allah Swt.” Mendengar ucapan Umar ibn al-Khattab, seluruh kaum muslim yang hadir mengumandangkan takbir, suara mereka menggema di seluruh sudut kota Makkah.

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Umar berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, bukankah kita dalam kebenaran, baik kita hidup atau pun mati?” Beliau menjawab, “Benar.”

“ Lalu mengapa kita sembunyi-sembunyi? Demi Zat yang telah mengutusmu sebagai nabi dengan membawa kebenaran, Tuan harus keluar.”

Setelah itu Nabi saw. keluar diiringi dua barisan, di barisan belakang ada Hamzah ibn Abdul Muthalib dan di barisan depan Umar ibn al-Khattab. Pemandangan ini tentu membuat ciut hati para pemuka Quraisy. Mereka tahu, Islam semakin kokoh setelah Hamzah dan Umar menjadi pemeluknya.

Tampaknya Umar benar-benar ingin membuat gerah para pemuka Quraisy, termasuk yang orang yang paling sengit memusuhi Rasulullah, yaitu Abu Jahal. Umar pun mendatangi rumah Abu Jahal dan langsung mengetuk pintunya dengan keras. Abu Jahal membuka pintu dan menyambutnya, “Selamat datang, wahai putra al-Khattab. Apa gerangan yang membawamu berkunjung ke sini?”

Umar menjawab, “Aku datang untuk memberitahukan kepadamu bahwa aku sudah memeluk Islam dan menjadi pengikut Muhammad saw.”

Jawaban Umar itu tentu saja membuat Abu Jahal murka. Ia langsung membanting pintu sambil mengumpat, “Celakalah kau! Kau datang hanya untuk ini! Meski langit runtuh di tengah-tengah kaum Quraisy, aku takkan meninggalkan ajaran leluhurku, tidak seperti Hamzah dan Umar.”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ayyub ibn Musa, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran atas lisan Umar dan hatinya. Dialah alFaruq (Sang Pembeda ) yang membedakan antara yang benar dan yang batil.”

Abdullah ibn Mas‘ud berkata, “Masuknya Umar ke dalam Islam merupakan kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Sebelum ia memeluk Islam, kami tak berani mendirikan shalar di Baitullah. Setelah memeluk Islam, Umar memerangi mereka dan mereka meninggalkan kami sehingga kami dapat mendirikan shalat dengan bebas.”

Abdullah ibn Abbas meriwayatkan sebuah hadis tentang perjalanan hijrah Umar menuju Madinah. Ibn Abbas menuturkan bahwa Ali ibn Abu Thalib berkata: “Sepengetahuanku, semua orang hijrah secara sembunyi-sembunyi kecuali Umar ibn al-Khattab. Saat hendak berangkat hijrah, ia membawa pedang, busur, dan beberapa anak panah. Kemudian ia berjalan menuju Ka‘bah ketika beberapa orang Quraisy berkumpul di sana. Umar melakukan tawaf tujuh putaran, kemudian mendirikan shalat di depan maqam (Ibrahim). Usai shalat, ia menemui satu demi satu kerumunan orang Quraisy itu. Di hadapan mereka Umar berkata, “Inilah wajah-wajah yang celaka! Allah akan menghinakan kalian semua! Barang siapa yang ingin ibunya kehilangan anak, anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda, temuilah aku di balik bukit ini.”

Ali berkata, “Saat itu tak ada yang mengikutinya kecuali orang-orang lemah, Umar menjadi penunjuk jalan dan memandu mereka. Ia berjalan di barisan depan.”

Sebelum berangkat hijrah, Umar berjalan menuju Ka'bah. Di tempat itu tampak beberapa pemuka Quraisy tengah berkumpul. Kedatangannya di tempat itu membuat mereka kaget dan marah. Mereka saling bertanya satu sama lain tentang maksud kedatangannya ke Ka‘bah. Mereka terus memperhatikan gerak-gerik Umar sambil terus menduga-duga. Tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang mengawasinya penuh curiga, Umar langsung bertawaf tujuh putaran, kemudian mendirikan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim, dan berdoa kepada Allah dengan khusyuk seakan-akan di tempat itu tidak ada seorang pun kecuali dirinya. Tuntas berdoa, ia bergegas menghampiri orang-orang Quraisy yang berkumpul sambil mengawasinya. Lalu, dengan suara yang keras dan tegas, ia berkata, “Terhinalah wajah-wajah! Allah tidak menghinakan kecuali orang-orang di hadapanku ini. Wahai kaum Quraisy, barang siapa yang ingin ibunya kehilangan anaknya, atau yang ingin anaknya menjadi yatim, atau yang ingin istrinya menjadi janda, temuilah aku di belakang lembah ini!”

Tak seorang pun yang menyahuti tantangannya. Mereka hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Meskipun amarah menggelegak, mereka tak punya cukup nyali untuk menghadapi Umar, yang segera pergi meninggalkan mereka menuju negeri hijrah. Orang-orang Quraisy itu hanya bisa memandangi kepergiannya dengan hati yang geram. Tidak seorang pun di antara mereka yang berani mengikuti Umar hingga punggungnya hilang dari pandangan mereka. Umar berangkat ke Yatsrib bersama dua puluh anggota rombongan yang terdiri atas keluarga dan kerabatnya.

Dalam hadis riwayat al-Barra ibn Azib dikatakan bahwa orang pertama yang tiba di Madinah dari kaum Muhajirin adalah Mush‘ab ibn Umair, keturunan Bani Abdu Dar, kemudian Ibn Ummi Maktum, dari Bani Fihr, lalu Umar ibn alKhattab bersama dua puluh orang rombongan. Para sahabat di Madinah bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah saw.?” Umar menjwab, “Beliau di belakangku.” Dan tak lama kemudian barulah Rasulullah saw. riba bersama Abu Bakr

Umar mengikuti berbagai peperangan dan peristiwa penting lainnya bersama Rasulullah saw. hingga beliau wafat. Tentang keilmuannya, sebaiknya kita perhatikan riwayat Abu Wail bahwa Abdullah ibn Mas'ud berkata, “Seandainya ilmu Umar diletakkan pada satu sisi timbangan dan ilmu manusia diletakan pada sisi yang lain, niscaya ilmu Umar mengungguli mereka.”

Ketika Abu Wail menyampaikan riwayat itu kepada Ibrahim, ia berkata, “Demi Allah, bahkan Abdullah mengatakan lebih dari ini.”

Abu Wail bertanya, “Apa yang dikatakannya ?” Ibrahim menjawab, “ Ketika Umar wafat, hilanglah sembilan dari sepersepuluh alam.

Imam Tirmidzi menuturkan sebuah riwayat dari Qutaibah dari al-Laits dari Uqail dari al-Zuhri dari Hamzah ibn Abdullah ibn Umar dari Ibn Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Aku bermimpi, disajikan kepadaku segelas susu, lalu aku minum dari gelas itu dan kuberikan lebihnya kepada Umar ibn al-Khattab.”

Mereka bertanya, “Apa takwil mimpi itu, wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Ilmu.”

Tentang kezuhudan Umar, Muhammad ibn Sa‘d meriwayatkan dalam kitab al-Thabaqat383 dari al-Walid ibn al-A‘az alMakki dari Abdul Hamid ibn Sulaiman dari Abu Hazim bahwa pada suatu hari Umar mendatangi rumah putrinya, Hafshah. Putrinya itu menyuguhkan sayur yang sudah dingin dan roti. Sayur itu ditaburi minyak. Melihat sajian itu, Umar berkata, “Dua lauk pauk dalam satu wadah! Sungguh aku tidak akan mencicipinya sampai aku berjumpa dengan Allah.”

Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dalam Shahihnya, bagian Kitabul Iman, dari Ibrahim ibn Said dari Salih dari Ibn Syihab dari Abu Umamah ibn Sahal dari Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku bermimpi melihat beberapa manusia didatangkan kepadaku dan mereka mengenakan pakaian. Sebagian mengenakan pakaian yang menutupi hingga dadanya dan ada pula yang lebih rendah, kemudian didatangkan Umar ibn al-Khattab kepadaku dan ia mengenakan baju yang menariknya.” Mereka bertanya, “Apa takwil mimpi itu, wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Agama.”

Imam Bukhari juga menuturkan riwayat lain dari Said ibn Abu Maryam dari al-Laits dari Uqail dari Ibn Syihab dari Said ibn al-Musayyab dari Abu Hurairah r.a. bahwa ketika para sahabat duduk bersama Rasulullah saw., beliau bersabda, “Aku bermimpi melihat diriku di surga, tiba-tiba kulihat seorang wanita berwudu di samping sebuah istana. Aku bertanya, ‘Milik siapakah istana ini ?’ Mereka menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat sifat cemburunya dan aku pun segera berlalu.” Mendengar sabda beliau, Umar ibn al-Khattab menangis dan berkata, “Apakah pantas aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah ?”

Ibn al-Atsir meriwayatkan dari Mujahid dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pendampingku dari penghuni langit adalah Jibril dan Mikail, dan pendampingku dari penghuni bumi adalah Abu Bakr dan Umar.”

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ishak ibn Said al-Dimasyqi dari Said ibn Basyir dari Harb ibn al-Khattab dari Ruh dari Abu Salamah dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Seorang penggembala menggembalakan kambing-kambingnya. Tiba-tiba seekor srigala muncul dan menyeret seekor kambingnya. Penggembala itu meminta kepada srigala agar mengembalikan kambingnya. Srigala itu berpaling kepada si penggembala dan berkata, ‘Milik siapakah kambing ini pada suatu hari yang di hari itu tidak ada lagi penggembala selain aku ?’

Dan seseorang menggiring kerbau yang membawa barangbarang bawaannya. Si kerbau berkata kepada orang itu, ‘Aku tidak diciptakan untuk ini. Aku diciptakan untuk membajak ladang.’”

Mendengar kisah yang dituturkan oleh Nabi saw., orangorang berseru takjub, “Mahasuci Allah!”

Nabi saw. bersabda, “Aku, Abu Bakr, dan Umar ibn alKhattab memercayai itu.” Saat itu, mereka berdua tidak hadir bersama para sahabat dan Nabi saw.

Umar r.a. memiliki keutamaan lain, seperti diriwayatkan oleh al-Thabrani dari Ibn Juraij dari Atha dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berbangga dengan seluruh manusia di hari Arafah, dan secara khusus Dia berbangga dengan Umar ibn al-Khattab.”

Kisah tentang Umar ibn al-Khattab teramat panjang dan tak mungkin dituturkan dalam satu buku. Kisah perjalanan hidupnya meliputi juga sikapnya terhadap sesama manusia, termasuk kepada para janda, anak yatim, anak-anak, dan kaum fakir miskin. Ibn al-Mubarak meriwayatkan dari Malik ibn Mighwal bahwa Umar ibn al-Khattab berkata, “Perhitungkan diri kalian sebelum kalian diperhitungkan! Sungguh itu adalah pekerjaan yang mudah. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang kelak! Bersiaplah untuk menghadapi sesuatu yang besar.”

﴿ يَوْمَئِذٍۢ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌۭ ﴾ سورة الحاقة ۱۸

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu ), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). [QS Al-Haqqah : 18]

Umar telah berhasil menerapkan keadilan, baik kepada dirinya sendiri, keluarga, dan kaum muslim. Ia merasa sangat takut ketika ada seekor domba yang terpeleset di jalanan di Irak. Ia takut kelak akan ditanya, “Kenapa tidak kaubuatkan jalan bagi domba itu ? Kemana saja engkau, wahai Umar ? Tidakkah kau merasa khawatir jika itu dialami kaum muslim?”

Umar r.a. senantiasa menjalani kehidupan yang selaras dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Ia memiliki kelebihan dan keistimewaan yang melekat pada dirinya. Namun, di akhir hayatnya ia wafat ditikam oleh seorang Majusi secara zalim. Semoga Allah merahmatinya.

Artikel Terkait