Berikut ini, saya akan merujuk kepada al-Mu’tabar Baghdadi ketika menganalisis filsafat illuminasi Suhrawardi untuk menunjukkan kaitan antara kedua metodologi itu dan untuk mencatat tema-tema umum mereka yang anti Ibn Sina. Saya tidak ebrmaksud melakukan suatu perbandingan yang mendalam. Namun, filsafat illuminasi, pada akhirnya dibedakan dari karya filsafat baghdadi dalam penggunaannya kiasan “cahaya”, posisi ontologisnya, teori illuminasi tentang emanasi, teori epistemologis tentang pengetahuan dengan kehadiran dan dalam bentuknya yang didefinisikan sebagai filsafat sistematis non Paripatetik yang dirancang sebagai sistem illuminasi yang terpisah.
AL-TALWIHAT
Dalam “Pendahuluan” bab “ilmu ketiga” (al-‘Ilm al-tsalits, yaitu metafisika) al-Talwihat, Suhrawardi menegaskan : (Dalam buku ini) saya tidak menaruh perhatian pada ajaran Paripatetik yang telah dikenal, sebaliknya saya akan meninjau dan mervisinya semampu saya dan hanya akan menyebutkan inti teori-teori (qawa ‘id) Guru Pertama.
Lebih jauh, dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, ia menegaskan bahwa al-Talwihat merupakan suatu karya yang disusun sesuai dengan “metode Paripatetik”, (‘ala thariq al-masysya’in) sedang di akhir al-Talwihat, ia menegaskan : Dalam buku ini saya telah memberikan apa yang memungkinkan seseorang membuang (metode-metode Paripatetik), dengan hal-hal yang menakjubkan dan unik. Ia dengan hati-hati telah menetapkan kaidah-kaidah ilmu. Di dalamnya tidak terdapat ketidaksesuaian, juga tidak terdapat pikiran yang terpencar-pencar. Saya nasehatkan agar Anda tidak megikutiku, juga mengikuti orang lain dengan membuta. Karena ukuran sesuatu adalah demonstrasi ..... Beralihlah ke “ilmu-ilmu yang dialami” agar Anda menjadi salah seorang filosof.
Kita dapat menyimpulkan dari pernyataan –pernyataan ini bahwa al-Talwihat adalah karya yang di dalamnya,d engan menggunakan “metode Paripatetik”, Suhrawardi menganalisis persoalan-persoalan penting filsafat diskursif dan mengmukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu, atau kebenaran-kebenaran suatu hakikat simbolik – wujud ini menurutnya, adalah “rahasia-rahasia”, dan mengetengahkan suatu pandangan filsafat yang menunjuk pada “pengetahuan yang dialami” sebagai jenis pengetahuan tertinggi yang juga menjadi dasar bagi epistemologi.
Pengetahuan yang dialami, sebagai intuisi ruang-waktu utama, perlu dijelaskan, atau didiskusikan – oleh karena itu bahts, atau filsafat diskursif adalah penting – dan metodologi Paripatetik harus digunakan dalam proses menjelaskan apa intuisi itu. Ini juga merupakan ciri penting pandangan Suhrawardi terhadap sejarah filsafat, khususnya sejarah filsafat dalam Islam. Pandangan ini, juga dibahas secara rinci dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat dan Hikmat al-Isyraq, dikemukakan dalam al-Talwihat melalui pengingatan kembali (recollection) Suhrawardi tentang sebuah visi mimpi dengan Aristoteles, yang memberitahukannya dalam mimpi bahwa di antara orang-orang “bijak” Islam (hukama), hanya mistikus seperti Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang telah mencapai penyatuan dengan Intelek Aktif; hanya mereka yang benar-benar orang bijak karena telah melampaui filsafat diskursif melalui pengalaman pribadinya.
Dalam suatu bagian sebelumnya, Suhrawardi menginformasikan kepada kita bahwa bentuk-bentuk pengetahuan tertentu, bentuk-bentuk yang menempati peringkat yang sama dengan yang diperoleh melalui penyatuan dengan Intelek Aktif, telah diperoleh oleh filosof-filosof semisal Aristotelesd an Plato,d an filosof lain di kalangan kuno, juga para mjistikus dalam Islam, dan kebenaran-kebenaran “(haqa’iq) yang diperoleh semacam itu dikatakan sebagai hasil suatu pengetahuan intuitif, bentuk pengetahuan yang dialami.
Berkaitan dengan prinsip-prinsip epistemologis yang penting ini, Suhrawardi menunjukkan kepada pembaca al-Masyari’ wa al-Mutharahat, tempat mana ia menjelaskan secara luas persoalan pengetahuan jiwa tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan diri atau persoalan-persoalan epistemologis terkait lainnya. Posisi Suhrawarditentang apakah fislafat itu, juga pandangan-pandangannya terhadap kepentingan epistemologis tentang tindakan-tindakan kreatif intuisi, persoalan pengalaman pribadi,d an “rahasia-rahasia” (rumuz), seperti dijelaskan dalam al-Talwihat, adalah catatan-catatan terbatas tentang filsafat illuminasinya.
Di beberapa tempat dalam al-Talwihat, terutama dalam bab tentang visi-mimpi dengan Aristoteles, prinsip-prinsip illuminasi dibahas Suhrawardi dengan panjang lebar-panjang lebar, meskipun dengan menggunakan bahasa teknis nonilluminasi, dan ini adalah suatu indikasi yang jelas dari tujuannya dalam buku ini : untuk meletakkan dasar filsafat illuminasi dengan mengemukakan “inti” ajaran filsafat Aristoteles. Ini menunjukkan bahwa karya tersebut tidak dapat dianggap sebagai suatu karya Paripatetik yang terpisah dari, dan tidak berkaitan dengan, filsafat illuminasi.
Surahwardi, dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq,s ecara jelas menegaskan bahwa “filsafat diskursif” (hikmah bahtsy-yah) adalah unsur penting “filsafat intuitif” (hikmahdzawqiy-yah). Ia lebih jauh menegaskan bahwa hanya sebuah kombinasi yang sempurna yang sejati (hikmah) – tujuan fislafat illuminasi – dan jika di sini kita membuat identifikasi antara “fisafat diskursif” dan “inti” ajaran Aristoteles, kita menyadari mengapa al-Talwihat, sebagai karya filsafat, dianggap sebagai langkah awal dalam membangun kembali filsafat illuminasi. Al-Talwihat pada dasarnya adalah bagian “diskursif” dari metodologi filsafat illuminasi. Suhrawardi menguraikan bahwa bagian metodologi Paripatetik ia eprlukan untuk digunakan dalam karyanya ini.
Namun, ini hanyalah salah satu unsur al-Talwihat yang paling jelas, dan unsur-unsur yang telah meng-antarkan sarjana-sarjana dan komentator-komentator berpikir bahwa karya ini adalah ringkasan “standar” ajaran Paripatetik. Unsur al-Talwihat yang kurang jelas – yang akan diselediki dengan hati-hati kemudian – dapat dibatasi dengan menyelidiki bahwa karya ini secara sederhana bukanlah suatu pembahasan (ekspose) “inti” ajaran Aristoteles. Namun lebih dari itu. Perhatikanlah bagian dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat berikut : Seseorang yang ingin menemukan apa yang penting ia ketahui sebelum (mempelajari) Hikmat al-Isyraq ada did alam buku al-Talwihat tempat saya menyatakan pendapat-pendapat yang membedakan saya dengan guru filsafat diskursif, Aristoteles.
Pembahasan Suhrawardi tentang “inti” ajaran Aristoteles adalah sesuai dengan apa yang telah ia rumuskan kembali, yaitu menjadi ajaran, dan bukan suatu ringkasan sederhana darinya. Tujuan utama al-Talwihat adalah untuk menerima suatu metodologi Paripatetik yang telah dirumuskan kembali sebagai unsur penting metode illuminasi, dan untuk mengajarkan hal itu kepada murid-murid filsafat illuminasi.
AL-MUQAWAMAT
Apa yang telah jauhs aya katakan tentang al-Talwihat dalam beberapa hal juga berkaitan dengan al-Muqawamat, akrena secara sederhana karya ini oleh pengarangnya disebut sebagai penjelasan (addendum, syarh) bagi al-Talwihat dan sevara substansial tidak berbeda, tentu tidak dalam tujuan atau strukturnya. Namun, al-Muqawamat selangkah ke depan ke arah suatu penjelasan ajaran illuminasi yang lebih spesifik dan komprehensif,d an menggunakan istilah teknis yang lebih tidak standar dibanding dengan Al-Talwihat. Al-Talwihat sering disebut-sebut dalam al-Muqawamat, terutama yang menunjukkan subjek yang sama yang diuraikan dengan baik di situ. Pada satu kesempatan Suhrawardi menyatakan bahwa al-Muqawamat adalah sesuai dengan “metode al-Talwihat”, sehingga al-Muqawamat juga dianggap sebagai sebuah unsur “diskursif” lebih jauh metodologi illuminasi.
Di akhir al-Muqawamat Suhrawardi menunjukkan kaitan karya ini dengan karya-karyanya yang lain ketika ia mengantisipasi Hikmat al-Isyraq, dengan menunjuk kepada al-Masyari” wa al-Mutharahat sebagai karya yang did alamnya rincian filsafat illuminasi dapat ditemukan, dan lebih jauh menginformasikan kepada pembaca bahwa al-Muqawamat adalah karya yang di dalamnya tingkat pokok persoalan dibahas lebih mendalam. Sungguh, dalam pandangan saya al-Muqawamat adalah karya yang lebih argumentatif dan lebih maju daripada al-Talwihat.
AL-MASYARI’ WA AL-MUTHARAHAT
Al-Masyari’ wa al-Mutharahat adalah karya Suhrawardi yang sangat terkenal setelah Hikmat al-Isyraq. Jika kita pmenyandingkan gaya yang lebih bagus karya yang disebut terakhir, kita harus menjernihkannya bahwa al-Masyari’ wa al-Mutharahat adalah karya illuminasi terpenting, yang mengandung,s ebagaimana kita diberitahu oleh Suhrawardi sendiri, “analisis terperinci” ajarannya. Ia adalah karya yang secara disengaja disusun lebih panjang dariapda Hikmat al-Isyraq.
Dalam karya ini Suhrawardi menyusun rincian prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan metodologi illuminasi yang hanya ia bahas secara ringkas dalam Hikmat al-Isyraq. Komentator Hikmat al-Isyraq lebih sering merujuk kepada al-Msyari’ wa al-Mutharahat daripada kepada karya-karya Suhrawardi lainnya. Jika Hikmat al-Isyraq dirancang sebagai suatu pernyataan ayng lebih puitis tentang kesatuan pengalaman illuminasi, al-Masyarai’ wa al-Mutharahat adalah suatu analisis filosofis terhadap pengalamana itu yang disusun dengan baik.
Pernyataan yang sangat eksplisit tentang al-Masyari’ wa al-Mutharahat diberikan sendiri oleh Suhrawardi dalam “Pendahuluan”-nya :
Buku ini terdiri dari tiga ilmu (Logika, fisika, metafisika). Saya telah menyusunnya atas dorongamu saudara-saudaraku. Di dalamnya saya menguraikan subjek-subjek dan teori-teori yang tidak ditemukan dalam karya-karya lain (tentang filsafat). (Teori-teori ini) benar-benar bermanfaat,d an telah diperoleh dan diperbaiki melalui pengalaman-pengalaman saya pribadi. Namun, saya tidak berangkat sama sekali dari jalan Paripatetik, meskipund alam karya ini saya telah emngutarakannya pendapat-pendapat yang mengisyaratkan prinsip-prinsip mulia (filsafat) di samping apa yang telah diuraikan oleh para filosof Paripatetik.
Orang yang tak berprasangka yang dengan hati-hati telah mempelajari karya-karya Paripatetik akan menemukan bahwa karya ini sempurna sedangkan karya-karya lain cacat. Siapa saja yang belum memahami ilmu-ilmu diskursif tidak akan dapat memahami karya kami yang disebut Hikmat al-Irsyaq, al-Masyari’ wa al—Mutharahat harus dibaca sebelum menyelidiki Hikmat al-Isyraq dan sesudah menyelidiki karya ringkas yang disebut al-Talwihat.
Di sini kita tidak menyempurnakan struktur (karya-karya Paripatetik tertentu). Juga tidak mendukung, dalam beberapa hal, subjek ilmu (yang sudah mapan), tetapi tujuan lebih jauh dalam karya ini adalah filsafat diskursif, meskipun yang demikian itu harus melibatkan (pembahasan) kaidah-kaidah berbagai-bagai ilmu lainnya. Karena itu, ketika murid filsafat diskursif mempelajari metode ini dengan baik, ia dapat memulainya dengan praktik-praktik asketik yang mencerahkan dengan perintah seorang yang ahli dalam illuminasi (al-Qayyim ‘ala al-isyraq, agar prinsip-prinsip dasar illuminasi memanisfestasikan diri kepadanya. Setelah (permulaan semacam itu) ia akan berasa dalam suatu posisi untuk memahami prinsip-prinsip sesuatu (al-asyya). Karena bagi ketiga bentuk (al-shuwar al-tsalats) yang disebutkan dalam Hikmat al-Isyraq, yaitu : (edisi Corbin menyebut tiga kode). Titik tolak filsafat adalah meninggalkan dunia, pertengahannya adalah (ditandai dengan) melihat Cahaya Tuhan (al-anwar al-ilahiyyah), dan akhirnya tanpa batas. Saya namakan buku ini al-Masyari’ wa al-Mutharahat.
Kita mencatat dari “Pendahuluan” ini bahwa al-Masyari’ wa al-Mutharahat bukanlah satu-satunya karya yang disusun sesuai dengan metodologi Paripatetik. Seperti Himat al-Isyraq, karya ini juga di dasarkan pada refleksi pribadi Suhrawardi. Ia bukan sekadar karya tempat mana kelemahan-kelemahan ajaran Paripatetik dikemukakan, tetapi juga sebuah karya yang mengantarkan para pembaca kepada suatu pembahasan yang mendalam tentang apa filsafat illuminasi itu. Seperti ditegaskan sendiri oleh Suhrawardi, dalam struktur karya tersebut juga berbeda dari karya-karya Paripatetik standar.
Al-Masyari’ wa al-Mutharahat membuat sejumlah rujukan terhadap Hikmat al-Isyraq dan terhadap sifat-sifat yang “menakjubkan”, “Simbolik”, metaforis dan illuminationis karya yang disebut terakhir ini. Dalam beberapa hal, dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat Suhrawardi menyebut Hikmat al-Irsyaq-nya sebagai karya tempat “kunci” bagi “rahasia-rahasia” ajarannya ditemukan. Juga terdapat beberapa indikasi bahwa ketika menyusun al-Masyari’ wa al-Mutharahat, Suhrawardi telah mendapatkan penekanan-penekanan tertentu atas dirinya. Semua ini dengan jelas menunjukkan bahwa suatu versi yang sempurna dari kedua karya ini telah ada secara bersamaan : Karena apa yang saya yakini tentang masalah ini, telah disebutkan dalam karya saya yang berjudul Hikmat al-Irsyaq. Saya tidak dapat menyebutnya secara eksplisit di sini (dalam al-Masyari’ wa al-Mutahrahat) karena tujuan saya dalam karya ini adalah (membahas) analisis diskursif dalam suatu cara yang tidak terlalu jauh tersesat dari pendekatan Paripatetik.”
Terdapat sejumlah sifat dalam al-Mayari’ wa al-Mutharahat yang menunjukkan pentingnya karya ini sebagai suatu karya yang tak terpisahkan dalam mempelajari filsafat illuminasi. Pertama, seperti tercatat,terdapat sejumlah rujukan dalam Hikmat al-Irsyaq. Kedua, karya penting ini mengandung kajian yang kaku dan terperinci sistem filsafat Suhrawardi sendiri yang tidak ditemukan, yang sama terperincinya, dalam Hikmat al-Irsyaq.
Contoh untuk itu adalah ketika Suhrawardi membahas konsep bahasa dan susunan simbolik sekadar sebagai sarana menulis pengetahuan yang dialami, dan tempat membahas semantik “bahasa illuminasi” (lisan al-isyraq). Suhrawardi memberikan penekanan yang besar pada penggunaan utama bahasa dalam filsafat, tetapi ia tidak pernah menguraikan subjek “bahasa illuminasi” dalam Hikmat al-Irsyaq sebagaimana ia melakukannya dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Pembaca diharapkan telah mengetahui karya yang terakhir ini, karena perincian-perincian posisi bahasa dalam membangun kembali metafisika benar-benar diselidiki.
Filsafat illuminasi menggunakan suatu bahasa khas, seperangkat istilah teknis tertentu, dan menekankan penggunaan suatu bentuk simbolik ekspresi yang didasarkan pada lebih luas dan dalam prinsip, citra cahaya dan kegelapan. Simbolisme cahaya digunakan untuk wujud-wujud tertentu dan batasan-batasan wujud, bentuk dan materi, Tuhan, hal-hal yang dipikirkan baik primer maupun sekunder, intelek, jiwa, iseity individual dan tingkatan-tingkatan intensitas pengalaman mistis.
Singkatnya, penggunaan simbol-simbol adalah sifat integral bangunan filsafat illuminasi, dan bentuk ekspresi simbolik ini juga menjadi sifat utama al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Dalam karya ini bentuk simbolik selalu diketengahkan dalam suatu kerangka filsafat Paripatetik dan terminologi teknisnya yang semacam itu, nampaknya, untuk menginstruksikan kepada pembaca tentang bahasa baru yang digunakan.
Sekarang, jelaslah bahwa filsafat Paripatetik diskursif yang menggunakan sebuah bahasa yang telah digunakan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina dan kira-kira menjadi standar pada masa Suhrawardi. Tetapi, dalam memandang penggunaan “bahasa illuminasi” Suhrawardi itu, pertanyaan harus dikemukakan : Seberapa jauh sistem filsafat baru Suhrawardi itu, sebagai ekspresi simbolik dan sebagai sebuah penggunaan khusus bahasa? Pertanyaan semacam itu mengantarkan kita menyelidiki sistem illuminasi dalam kaitannya dengan Paripatetik untuk melihat bagaimana dua bentuk itu dikaitkan dan, terutama, untuk menunjukkan perbedaan esensial antara keduanya. Sekali kedua “bahasa” diidentifikasi, seperti pernah ditunjukan para komentator filsafat illuminasi telah bisa menyadair bahwa :
- hingga saat ini terdapat suatu hubungan antara dua sistem yang tak tercatat;
- “Bahasa illuminasi” adalah sebuah mode yang penting untuk membangun dan mengekspresikan filsafat illuminasi; dan
- Beberapa pembahasan tentang konsep “illuminasi” itu sendiri, yang menegaskan pengalaman sebagai dasar epistemologi, menuntut suatu bahasanya sendiri untuk mengekspresikan “pengalaman” dalam suatu cara analisis yang tidak menghilangkan pengalaman tersebut.
Seperti yang akan kita lihat nanti, ini merupakan prinsip dasar, yaitu untuk mengetahui sesuatu adalah dengan memperoleh suatu “pengalaman” tentangnya, serupa dengan intuisi utama batasan-batasan wujud. Pengetahuan tentang sesuatu yang dialami dianalisa hanya berakibat kepada penangkapan intuitif yang menyeluruh dan langsung tentang apa ia sebenarnya. Apakah ada sesuatu, kita mungkin bertanya apda titik ini, dalam “pengalaman” suatu subjek, yang mengharuskan apa yang telah diperoleh oleh subjek itu melalui suatu bahasa simbolik yang disusun secara khusus? Jawaban atas pertanyaan ini akan diselidiki dari berbagai-bagai sudut pandang, tetapi tidak jelas, bahkan pada titik waktu pendahuluan ini, bahwa “bahasa illuminasi” Suhrawardi adalah upaya yang ia lakukan untuk menggunakan suatu bahasa khusus yang digunakan untuk menggambarkan “pengalaman” illuminasi.
Sama jelasnya, bahwa penafsiran simbolisme illuminasi dan implikasi-implikasinya merupakan aspek-aspek utama kontroversi seperti apa filsafat illuminasi itu. Harus diingat bahwa simbolisme bangunan filsafat illuminasi dikembangkan secara rinci oleh Suhrawardi dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat, dan karena aitu karya ini tidak dapat dilepaskan dari upaya kita memahami filsafat illuminasi.
Ada suatu sisi “lisan” yang penting bagi ajran-ajaran Suhrawardi, suatu ajaran yang telah diuraikan secara lebih bebas, tanpa terbatas pada kata yang tertulis, dengan bahasa simbolik filsafat illuminasi. Ajaran-ajaran “lisan” tersebut harus dibatasi pada suatu lingkaran sahabat-sahabat dekat Suhrawardi.
Kesimpulan kita ini dikuatkan oleh penamaan Suhrawardi sendiri kepada seseorang yang “ahli dalam illuminasi”, yang dapat disamakan dengan guru sufi, atau mursyid, berikut dengan sejumlah pernyataannya yang lebih kurang mengatakan bahwa filsafat illuminasi tidak dapat disesuaikan dengan semua orang, dan tentu saja tidak dengan mereka yang berada di luar peserta. Ajaran lisan filsafat illuminasi, ditujukan kepada sekelompok sahabat, sebagai sarana mengalirkan simbol, menyingkap maknanya yang diinginkan.
Pembahasan tentang pengalaman illuminasi itu sendiri, menurut Suhrawardi, tidakd apat dibatasi sepenuhnya pada bentuk ungkapan biasa dan analisis diskursif. Simbol-simbol (tanda-tanda dan rahasia-rahasia) harus digunakan. Simbol (termasuk metafor dan alegori) sendiri merupakan semacam sifat yang akan mendatangkan suatu jawaban dalam jiwa dan pikiran subjek, namun pengungkapan pengalaman akan tetap tinggal, personal dan hanya dapat dikomunikasikan sepenuhnya dalam lingkaran teman-teman dekat. Dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat kita menemukan suatu pernyataan eksplisit tentang ini : Misteri besar dan mulia yang disingkapkan ungkapan simbolik (dan metaforis) dari buku kami Hikamt al-Irsyaq, hanya dapat kita tujukan kepada sahabat-sahabat kita, para illuminasi (ashhabuna al-isyaqiyyun).
“Sahabat-sahabat illuminasionis”, yang juga disebut Suhrawardi sebagai “:saduara”, yang membentuk lingkaran “persaudaraan abstraksi” (ikhwan al-tajrid), yang telah mengakses sebuah tingkat pemahaman filsafat illuminasi tidak dikandung dalam buku-buku ini. Tingkat illuminasi semacam itu adalah tingkat tempat Suhrawardi telah menyalurkan wacana-wacana selama hidup, dan, mungkin, dilanjutkan oleh orang yang “ahli dalam illuminasi” setelah ia meninggal. Hanya pada titik ini kita menyadari bahwa karya-karya Suhrawardi semacam itu seperti al-Talwihat dan al-Muqawamat (yang sering disebut dalam al-Msyarai’ wa al-Mutharahat), disusun dengan “metode Paripatetik”, sekaligus untuk menunjukkan kelemahan metedo tersebut,s ebagaimana kita ketahui dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Pesan tersebut kemudian menjadi jelas : metode “Paripatetik” dan bahasa biasa gagal menggambarkan esensi “pengalaman” yang menjadi dasar epistemologis illuminasi.
KNOWLEDGE AND ILLUMINATION
A Study of Surahwardi’s Hikmat al-Isyraq
Hossein Ziai (Guru Besar Universita California Los Angeles)