Sabtu, 24 Agustus 2024

Filsafat Agama dan Pengaruh Ibnu Tufail

Filsafat merupakan pemahaman akal secara murni atas kebenaran konsep-konsep dan imajinasi yang sesungguhnya, tak dapat dijangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Bahasa merupakan hasil dari kebutuhan-kebutuhan material lingkungan sosail dan karena itu hanya dapat menyentuh dunia fenomena semata. Dunia angkasa, yang abstrak dan non bendawi, tidak dapat dijangkau. Bila dilukiskan dengan lambang bendawi, maka ia akan kehilangan esensinya, dan bisa-bisa orang menganggapnya tidak sebagaimana yang sebenarnya.

Kalai begitu mengapa Al-Quran melukiskan dunia-atas itu dalam ibarat-ibarat, sehingga pandangan yang lebih jelas terkesampingkan dan orang bisa jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan fatal karena menganggap pemenuhan kebutuhan jasmaniah sebagai esensi Tuhan, padahal Dia lepas dari itu? Dan mengapa Kitab Suci tidak hanya sekedar memberikan ajaran-ajaran dan tatacara pemujaan, dan memberi manusia ijin untuk mengumpulkan kekayaan serta memberinya kebebasan mencari makan, yang dengan cara itu mereka mengejar tujuan yang sia-sia dan berpaling dari kebenaran? Tidakkah kebutuhan yang sangat penting dari jiwa itu ialah membebaskan diri dari hasrat-hasrat serta ikatan-ikatan duniawi sebelum dia memulai perjalanannya menuju surga? Apakah manusia mau mengesampingkan tujuan-tujuan duniawi untuk mengikuti kebenaran, jika mereka mencapai pengetahuan murni sehingga mampu memahami segala suatu dengan benar?

Kegagalan menyedihkan Hayy dalam upaya memberi penerangan kepada massa dengan jalan memberikan konsep-konsep murni itu, membuka jalan bagi menjawab pertanyaa-pertanyaan di atas. Nabi berlaku bijak dengan memberi mereka bentuk-bentuk yang dapat ditangkap oleh indera dan bukannya penerangan melulu, sebab mereka tidak memiliki jalan keselamatan yang lain. Bila mencapai pengetahuan murni, mereka akan terguncang dan jatuh dan berakhir dengan buruk.

Bagaimanapun, meski ibn Tufail menyuarakan kebijaksanaan Negara Muwahhid tentang penahanan pengajaran filsafat kepada orang kebanyakan, namun dengan jelas dia mengakui adanya sekelompok orang berbakat yang patut mendapatkan petunjuk-petunjuk filosofis dan kepada mereka paling baik ditanamkan pengetahuan serta kebijaksanaan dengan jalan mengemukakan kiasan-kiasan.

Agama diperuntukan bagi semua orang; tapi filsafat hanya bagi orang-orang berbakat yang sedikit jumlahnya. Kelebihan mereka harus dipisahkan secara hati-hati. Tak pelak lagi, filsafat harus dipahami secara bersamaan dengan agama; keduanya membawa kepada kebenaran yang sma, tapi dengan cara-cara yang berbeda. Mereka berbeda bukan hanya dalam metode dan lingkup, tapi juga dalam taraf rahmat yang mereka anugerahkan kepada para pengikut setia mereka.

Agama melukiskan dunia atas dengan lambang-lambang eksoteris. Dia penuh dengan perbandingan, persamaan dan gagasan-gagasan antropomorfis, sehingga akan lebih mudah dipahami oleh orang-orang, mengisi jiwa dengan hasrat dan menarik mereka kepada kebajikan dan moralitas. Filsafat, di lain pihak, merupakan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep dan imaji-imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang disitu esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu.

Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun memiliki intuisi; sumber utama pengetahuan meraka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan Nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.

Filsafat merupakan masalah khusus individu; ia mensyaratkan perangai dan bakat tertentu untuk menangkap penerangannya. Agama, sebaliknya, merupakan suatu disiplin sosial. Pandangannya bersifat melembaga, bukan individual. Tujuannya kurang labih yaitu kebaikan massa secara umum, tanpa menghiraukan perbedaan-perbedaan individu dalam kemampuan dan ketercerahan batiniah.

Filsafat menghadapkan kita kepada realitas. Ia menuntut perenungan terus-menerus atas kebenaran, visi jelas cahaya utama, sumber segala kemaujudan, dengan melepaskan semua ikatan duniawi. Agama tidak demikian tegar dalam ketentuan-ketentuannya. Ia mengutuk kepertapaan dalam arti apa pun; sebab manusia pada umumnya tidak mampu mencapai hal itu. Oleh karena itu, agama menetapkan syarat mutlak yang paling mudah dilaksanakan dan memberikan kepada manusia ijin untuk menjalani kehidupan duniawi, asal tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan.

Dengan demikian para filosof, mampu mencapai kebahagiaan yang tinggi. Sedangkan orang kebanyakan harus merasa puas dengan kebahagiaan kedua dan tidak dapat meningkat lagi, dikarenakan keterbatasan diri mereka. Kemudian teori ini, di bawah pengaruh ibn Rusyd, mempersenjatai para Sarjana Eropa terhadap Gereja dengan doktrin “Kebenaran lipat dua,” John dari Brescia dan Siger dari Brabant menjadi duta wakil utamanya.

Cerita ini tampaknya belum berakhir di sini; sebab sikap individualistik yang menguntungkan dari filsfat modern, suatu sikap yang membedakannya dari pandangan jaman pertengahan dan jaman kuno, ternyata juga merupakan suatu dasar yang khas dari teori itu.

PENGARUH IBNU TUFAIL

Di antara karya ibn Tufail, hanya Hayy ibn Yaqzan sajahlah yang masih ada sekarang. Karya itu merupakan suatu roman filsafat pendek, tapi pengaruhnya terhadap generasi berikutnya di Barat begitu besar sehingga karya tersebut dianggap sebagai “salah satu buku paling mengagumkan di Jaman Pertengahan.” Mengenai semangatnya, karya itu menyamai Arabian Nights; mengenai metodenya, ia bersifat filosofis segkaligus mistis. Ia menyatukan kesenangan dan kebenaran dengan jalan menggunakan imajinasi dan intuisi untuk membantu akal, dan daya tarik khusus inilah yang menjadikannya termasyhur dan mendorong orang untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Ibrani, Latin, Ingris, Belanda, Prancis, Spanyol, Jerman dan Rusia. Bahkan sampai sekarang, minat dunia terhadap karya itu belum hilang.

Edisi bahasa Arab baru-baru ini dari Ahmad Amin (1371 / 1952), yang diikuti terjemahan bahasa Persia dan Urdu pada dasawarsa yang sama, cukup menjadi bukti bahwa karya ibn Tufail tak kalah memikat bagi dunia modern, sebagai mana ia memikat dunia jaman pertengahan.

Risalah itu menarik perhatian the Quakers, dan George Kieth yang mendapati bahwa karya itu menopang “pandangan antusiastik” the Society of Friends, menerjemahkannya ke dalam bahasa Ingris pada tahun 1085 H/1674 M. Begitu hebat pengaruh karya itu, atau menurut istilah Simon Oxkley “manfaat buruk”, sehingga dia merasa berkewajiban untuk menuliskan suatu lampiran tiga puluh enam lembar bagi versi bahasa Ingris dari buku tersebut (1120 H/1708 M), yang dimaksudkannya untuk menyangkal tesis ibn Tufail bahwa seorang individu, yang bernama cahaya batin a priori-nya, dapat mencapai kebenaran utama.

Utang Gracian Baltasar, seorang penulis Spanyol, terhadap ibn Tufail menarik perhatian dunia pada empat dasa warsa pertama abad ini. Menurut L. Gauthier, kehidupan awal Andrenio, tokoh utama dalam karya Baltasar- El Criticon (Saragosa, 1062 H/1651 M), merupakan suatu “manifestasi” dan “tiruan yang tak terpungkiri” dari versi legendaris kelahiran Hayy. Tapi G. Gomez, seorang kritikus Spanyol, mengemukakan bahwa El Criticon, lebih dekat dengan kisah Yunani Dhu al-Qarnain wa Qissat al-Sanam wal-Malak wa Bintuhu, dibandingkan dengan Hayy ibn Yaqzan. D.K. Petrof, seorang Orientalis Rusia, juga beranggapan bahwa Gracian Baltasar merupakan kekecualian terhadap pengaruh ibn Tufail. Tapi, L. Gauthier, dalam versi terakhir risalah itu (Bairut, 1355 H/1936 M), mempertahankan sikap Gomez dan Petrof dan mengambil kesimpulan bahwa Gracian Baltasar berutang kepada kisah dari Yunani Qissat al-Sanam secara tidak langsung lewat karya ibn Tufail Hayy ibn Yaqzan.

Pengaruh kerangka roman risalah ini juga dapat dilihat dalam Menedez Pelyo, Pou, Saif Bin dhi Yzan dan Taszan. Bahkan Robinson Crusie (1132 H/1719 M), karya Daniel Defoe, tidak merupakan kekecualian terhadap pengaruhnya, sebagaimana dibuktikan oleh A.R. Pastor dalam karyanya Idea of Robinson Crusoe.

Di antara murid-murid ibn Tufail, abu Ishaq al-Bitruji dan abu al-Walid ibn Rusyd dadalah paling menonjol. Dia berada di barisan depan dalam bidang astronomi lewat al-Bitruji yang teorinya tentang gerakan Muslim anti-Plotomeus. Dalam bidang filsafat dan pengobatan dia menguasai arena lewat ibn Rusyd yang paham rasionalismenya “berkobar bagi api yang ganas di sekolah-sekolah Eropa” dan menuntun pemikiran mereka selama tidak kurang dari tiga abad.

Artikel Terkait