Kamis, 29 Agustus 2024

Filsafat dan Doktrin Ibnu Bajjah

Ibn Bajjah ahli baik dalam teori maupun praktek ilmu-ilmu matematika, terutama astronomi dan musik, mahir dalam ilmu pengobatan dan tekun dalam studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika. Dalam pandangan de Boer, dian benar-benar sesuai dengan al-Farabi dalam tulisan-tulisannya mengenai logika dans ecara umum setuju dengannya bahkan dengan doktrin-doktrin fisika dan metafisikanya. Mari kita telaah sejauh mana kebenaran pernyataan ini dengan petunjuk tulisan-tulisan ibn Bajjah yang sampai kepada kita.

Ibn Bajjah, tak pelak lagi, menyandarkan filsfat dan logikanya pada karya-karya al-Farabi, tapi jelas bahwa dia telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karya itu. Dan lagi, dia telah menggunakan metode penelitian filsafat yang benar-benar lain. Tidak seperti al-Farabi, dia berusaha dengan segala masalah hanya berdasarkan nalar semata.

Dia mengagumi filsfat Aristoteles, yang di atasnya dia membangun sistemnya sendiri. Tapi, dia berkata, untuk memahami metode apekulatif Aristoteles adalah penting untuk memahami lebih dulu filsfat secara benar. Itulah sebabnya ibn Bajjah menulis uraian-uraian sendiri atas karya-karya Aristoteles. Uraian-uraian ini merupakan bukti yang jelas bahwa dia mempelajari teks-teks karya Aristoteles dengan sangat teliti. Seperti juga dalam filsafat, Aristoteles, ibn Bajjah mendasarkan metafisika dan psikologinya pada fisika, dan itulah sebabnya mengapa tulisan-tulisannya penuh dengan wacana-wacana megnenai fisika.

KONSEP TENTANG MATERI DAN BENTUK

De Boer menulis : “Ibn Bajjah memulai dengan satu asumsi bahwa materi itu tidak bisa bereksistensi tanpa adanya bentuk, sedangkan bentuk bisa bereksistensi dengan sendirinya, tanpa harus ada materi.” Tapi pernyataan ini salah. Menurut ibn Bajjah materi dapat bereksistensi tanpa harus ada bentuk. Dia berargumen jika materi berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi “materi” dan “bentuk” dan begitu seterusnya, ad infinitum. Ibn Bajjah,menyatakan bahwa “Bentuk Pertama” merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.

Aristoteles membuat definisi materi sebagai sesuatu yang menerima bentuk dan yang dalam satu hal bersifat universal. Materinya dalam hal ini berada dari materi Plato yang meskipun dia setuju dengan definisi di atas, berpendapat bahwa bentuk itu sendiri nyata dan tidak membutuhkan sesuatu pun untuk bisa aberinteraksi. Tujuan Aristoteles bukan hanya untuk menyatakan bahwa materi dan btu itu saling bergantung, tetapi juga untuk membedakan antara bentuk khusus sebuah spesies dan bentuk khusus spesies lain. Bentuk sebuah tanaman itu berbeda, misalnya, dengan bentuk seekor binatang, dan bentuk sehuah benda mati berbeda dengan bentuk sebuah tanaman, dan seterusnya.

Dalam tulisan-tulisan ibn Bajjah, kata bentuk dipakai untuk mencakup berbagai arti : jiwa, sosok, kekuatan, makna, konsep. Menurut pendapatnya, bentuk suatu tubuh memiliki tiga tingkatan : (1) bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual, (2) bentuk kejiwaan khusus, dan (3) bentuk fisik.

Dia membagi bentuk kejiwaan sebagai berikut :

  1. Bentuk-bentuk tubuh sirkular, hanya memiliki hubungan sirkular dengan amteri, sehingga bentuk-bentuk itu dapat membuat kejelasan materi dan menjadi sempurna.
  2. Kejelasan materi yang bereksistensi dalam materi.
  3. Bentuk-bentuk yang bereksistensi dalam indera-indera berada di antara bentuk-bentuk kejiwaan dan kejelasan materi.

Bentuk-bentuk itu dapa berkaitan dengan aktif oleh ibn Bajjah dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan umum, dan bentuk-bentuk yang berkaitan dengan akal sehat dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan khusus. Pembedaan ini dilakukan karena bentuk-bentuk kejiwaan umum hanya memiliki satu hubungan dan hubungan itu ialah dengan yang menerima, sedangkan bentuk-bentuk kejiwaan khusus memiliki dua hubungan – hubungan khusus dengan yang berakal sehat dan hubungan umum dengan yang terasa. Seorang manusia, msialnya, ingat akan bentuk Taj Mahal : bentuk ini tidak berbeda dari bentuk nyata Taj Mahal kalau benda itu berada di depan mata – bentuk ini selain memiliki hubungan khusus seperti yang tersebut di atas, juga hubungan dengan wujud umum yang terasa, sebab banyak orang melihat Taj Mahal.

TUHAN, SUMBER PENGETAHUAN

Mengenai rahmat Tuhan, yang lewat rahmat tersebut unsur rasional mengenali perbedaan-pernbedaan, seorang manusia melebihi manusia lainnya, dan hal itu sesuai dengan kapasitas yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Tapi kedua rahmat ini merupakan pembawaan sejak lahir, bukan diupayakan. Kapasitas dan rahmat yang mesti diupayakan bukanlah pembawaan sejak lahir, dan keduanya diperoleh dengan melakukan apa-apa yang dapat sesuai dengan kehendak Tuhan, di bawah bimbingan para Nabi. Oleh karena itu, manusia harus menyambut seruan Nabi Suci dan melaksanakan apa yang diperintahkannya.

Dengan begitu dia dapat melihat lewat wawasan hatinya sifat setiap makhluk, asal mulanya dan ketentuan akhirnya. Dengan begitu pula, dia dapat mengetahui bahwa Tuhan merupakan suatu kemaujudan – mesti dengan sendirinya, tunggal, tidak bersekutu dan pencipta segalanya; bahwa segala selain Dia ada yang menyamai dan berasal dari esensi sempurna-Nya; bahwa pengetahuan diri-Nya meliputi pengetahuan-Nya tentang semua obyek; dan bahwa pengetahuan-Nya tentang semua obyek itu merupakan sebab mewujudnya obyek-obyek tersebut.

Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, ibn Bajjah menasehati kita untuk melakukan tiga hal :

  1. membuat lidah kita selalu mengingat Tuhan dan memuliakan-Nya,
  2. membuat organ-organ tubuh kita bertindak sesuai dengan wawasan hati, dan
  3. menghindari segala yang membuat kita lalai mengingat Tuhan atau membuat hati kita berpaling dari-Nya. Ini semua mesti dilaksanakan terus-menerus sepanjang hidup.

FILSAFAT POLITIK

Ibn Bajjah menulis sejumlah risalah kecil mengenai pemerintahan Dewan Negara dan pemerintahan Negara-Kota, tapi buku yang sekarang masih bisa dibaca hanyalah Tadbir al-Mutawahhid (Razim Satu Orang). Sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, ibn Bajjah sangat menyetujui teori politik al-Farabi. Misalnya. Dia menerima pendapat al-Farabi yang membagi Negara menjadi negara sempurna dan yang tidak sempurna.

Dia juga setuju dengan al-Farabi yang beranggapan bahwa individu yang berbeda dari sebuah bangsa memiliki watak yang berbeda pula – sebagian dari mereka lebih suka memerintah dan sebagian yang lain lebih seuka diperintah. Tapi ibn Bajjah memberikan tambahan kepada sistem al-Farabi ketika dia mendesakkan pendapatnya bahwa manusia yang memerintah secara sendiria itu (mutawahhid atai filosof yang berpikiran tajam) harus selalu berada lebih tinggi dari orang-orang lain pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Meskipun menghindari oranga lain itu sendiri tidak diinginkan, namun hal itu diperlukan untuk mencapai kesempurnaan. Dia juga menasehati agar filosof menemui masyarakatnya hanya pada beberapa kesempatan tertentu dalam waktu sebentar saja, dan dia harus pindah ke negara-negara tempat dia dapat memperoleh pengetahuan; perpindahan itu harus dilakukan di bawah hukum-hukum ilmu politik.

Dalam risalah al-Wada’ ibn Bajjah memberikan dua fungsi alternatif Negara :

  1. untuk menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka mencapai tujuan yang mereka inginkan. Fungsi ini paling baik dilaksanakan di dalam Negara ideal oleh seorang penguasa yang berdaulat.
  2. Fungsi alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan-tujuan tertentu, persis sebagaimana seorang penunggang, sebagai latihan pendahuluan, mengendalikan tali kekang demi menjadi penunggang yang mahir.

Ini merupakan fungsi pelaksana-pelaksana Negara-negara yang tidak ideal. Dalam hal penguasa disebut rais (pemimpin). Sang pemimpin menerapkan di Negara itu suatu sistem tradisional untuk menentukan seluruh tindakan rakyat.

Dalam sistem al-Farabi dan ibn Bajjah, kosntitusi harus disusun oleh Kepala Negara, yang telah disamakan oleh al-Farabi dengan seorang Nabi atau Imam. Ibn Bajjah tidak menyebutkanidentitas ini secara terperinci, tetapi secara tidak langsung dia setuju dengan pendapat al-Farabi ketika dia menyatakan bahwa manusia takkan mencapai kesempurnaan kecuali lewat yang dibawa oleh para rasul dari Tuhan Yang Mahatinggi (yaitu Hukum Tuhan atau Syari’ah). Mereka yang mengikuti petunjuk Tuhan takkan sesat.” Oleh karena itu, adalah terlalu lancang bila mengatakan bahwa “Dia (ibn Bajjah) mengabaikan relevansi politis Hukum Tuhan (Syari’ah) dan nilai edukatifnya bagi manusia sebagai warga negara.”

Artikel Terkait