Kamis, 08 Agustus 2024

Imam Suhrawardi dan Karya-Karyanya

EMPAT KARYA MONUMENTAL

Kita akan memulai dengan menyelidiki empat karya filsafat Suhrawardi yang berbahasa Arab : al-Talwihat (Intimations), al-Muqawamat (Apposites), al-Masyari’ wa al-Mutharahat (Paths and Havens), dan Hikmat al-Isyraq, untuk menujukkan bahwa berdasarkan pernyataan eksplisit Suhrawardi sendiri, karya-karya ini merupakan karya yang utuh (integral) yang di dalamnya gambaran umum dan perkembangan filsafat Illuminasi dikemukakan, dari permulaan analisis dan diskursifnya hingga tujuan yang dialami (Experential), yang digambarkan secara kiasan dan simbolik sebagai tujuan filsafat illuminasi. Untuk menjawab pertanyaan “Apakah filsafat illuminasi itu?” secara memuaskan kita tidak dapat membatasi diri dengan hanya mengkaji salah satu dari empat karya ini, sebaliknya, kita harus menyelidiki seluruhnya sebagai keseluruhan yang koheren. Hanya dengan kajian semacam itu, memungkinkan menggambarka suatu penilaian yang komprehensif tentang filsafat illuminasi itu.

Berikut ini adalah pernyataan Suhrawardi yang paling eksplisit tentang keterkaitan keempat karya tersebut : “Buku ini (al-Masyari’ wa al-Mutharahat) harus dibaca terlebih dahulu sebelum membaca Hikmat al-Isyraq dan setelah penyelidikan singkat yang disebut al-Talwihat”. Karena al-Mukawamat dinyatakan sebagai penjelasan bagi al-Talwihat, ia mengikuti bahwa rangkaian pembacaan dan pengajaran filsafat illuminasi yang dianjurkan, sebagai berikut :

  1. al-Talwihat,
  2. al-Muqawamat;
  3. al-Masyari’ wa al-Mutharahat,
  4. Himat al-Isyraq

Kenyataanya, karya-karya ini harus dibaca bersama dan dalam urutan tertentu, dan hanya dengan begitu mereka membentuk filsafat illuminasi. Sekarang, dalam meninjau fakta-fakta tertentu yang akan kita selidiki segera, terbukti bahwa karya-karya penting ini ditulis, diajarkan, direvisi dalam rentang waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Ini menunjukkan bahwa gagasan filsafat Illuminasi, apakah secara persial atau seluruhnya, telah ada dalam pikiran Suhrawardi ketika menyusun masing-masing karya-karya ini. Sebenarnya saya ingin menunjukkan bahwa tujuan di balik penyusunan dari masing-masing dari karya-karya ini tidak lain kecuali mengetengahkan filsafat Illuminasi yang sistematis.

Ini berarti ketika Suhrawardi menegaskan bahwa al-Talwihat (Intimations), misalnya, ditulis sesuai dengan “metode Paripatetik”, ia bukanlah karya yang berdiri sendiri yang ditulis semata-mata sebagai penerapan dalam filsafat Paripatetik, juga bukan menggambarkan suatu periode “Paripatetik” dalam kehidupan dan karya-karya Surahwardi. Sebaliknya, ia menunjuk pada kenyataan bahwa bagian-bagian atau dimensi-dimensi tertentu filsafat Illuminasi sesuai dengan ajaran-ajaran Paripatetik, terutama ajaran-ajaran Ibn Sina sebagaimana ditemukan dalam dua karyanya yang terkenal, al-Syifa’ dan dalam al-Isyarat wa al-Tanbihat. Untuk menyusun suatu filsafat dalam suatu karya yang menyingkap logia, fisika dan matematika (dan filsafat Illuminasi merupakan suatu sistem filsafat yang sempurna dalam pengertian ini) berarti bahwa, bahkan lebih jauh, Suhrawardi harus bekerja dalam kerangka kerja metodologis dan konspetual tradisi ilmiah dan filosofis yang telah mapan, yang dalam hal ini tradisi Paripatetik yang dinyatakan secara eksplisit, terutama adalah Ibn Sina (yang sering disebut Suhrawardidi sejumlah tempat dalam teks-teksnya) dan bukan Al-Farabi atau al-Kindi (bahkan tidak pernah disebut).

Filsafat Illuminasi menekankan unsur-unsur intuitif tertentu yang melampaui pemikiran diskursif, tetapi ia bukanlah suatu sistem yang sepenuhnya bertolak belakang, atau berbeda sepenuhnya, dengan filsafat Paripatetik. Sebenarnya, filsafat Paripatetik, sebaaimana dikaji dan dipahami Surahwardi, adalah titik tolak dan unsur yang tak terpisahkan dari metodologi illuminasi. Hanya dengan membandingkan dengan filsafat Paripatetik seseorang dapat menyadari bagaimana filsafat illuminasi bertujuan memperluas pandangan manusia terhadap sesuatu; kemudian, dalam istilah-istilah tersebut, keberhasilannya dalam mencapai tujuan itu dapat ditentukan.

POSISI AL-LAMAHAT DAN KARYA-KARYA LAINNYA

Karena beberapa alasan, kita tidak memasukkan karya Suhrawardi al-Lamahat (Flashes of Light) dari kajian kita. Sejak awal, Suhrawardi hanya menyebut al-Lamahat sekalid alam empat karya yang telah disebutkan terdahulu, sedang di antara yang terakhir ini terdapat sejumlah penyebutan silang. Ia juga tidak pernah menyebut bahwa al-Lamahat sebagai bagian dari tulsian yang mesti dibaca oleh murid filsafat illuminasi. Satu-satunya tempat Suhrawardi menyebut al-Lamahat adalah dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, tempat ia menunjukkan bahwa di antara karya-karyanya, karya ini menempati suatu posisi “di bawah” al-Talwihat, yang termasuk ke dalam kelompok karya yang menghiasi filsafat Illuminasi.

Dalam “Pendahuluan” al-Lamahat Suhrawardi menyebutnya sebagai suatu karya “yang sangat singkat, yang hanya mengandung unsur-unsur terpenting tiga ilmu (logika, fisika, dan metafisika).” “Unsur-unsur terpenting” hanya merupakan suatu garis besar atau silabus singkat topik-topik penting filsafat Paripatetik, seperti dikemukakan, misalnya, dalam karya penting filsafat Ibn Sina, al-Syifa’, Al-Lamahat adalah karya sederhana, yang mengetengahkan secara tidak argumentatif prinsip-prinsip dari kaidah-kaidah utama filsafat Paripatetik mengenai logika, fisika dan metafisika.

Sebaliknya, dalam keempat karyanya yang penting, Suhrawardi membicarakan persoalan dalam berbagai-bagai tingkatannya secara hati-hati dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Paripatetik, apakah ditolak atau direvisi, ataukah akhirnya disusun kembali dalam suatu kerangka illuminasi baru, dan mengekspresikan penggunaan suatu bahasa teknis yang dimodifikasi sesuai dengan ketentuan filsafat illuminasi yang terkait.al-Lamahat tidak mengandung sifat-sifat semacam itu.

Di antara karya-karya lain Suhrawardi berikut ini, karena alasan-alasan yang akan disebutkan di bawah ini, merupakan karya-karya yang tidak menjadi bagian dari kajian kita terhadap filsafat illuminasi saat ini, tetapi akan diselidiki dalam buku ini tentang penggunaan kiasan dalam filsafat illuminasi.

  1. Partawnamah (Sinar Matahari) karya berbahasa Persia,d an merupakan salah satu karya Suhrawardi yang berdiri sendiri. Karya ini dianggap sebagai simbol filsafat illuminasi yang berbahasa Persia. Sengaja tidak saya masukkan karya itu dalam kajian ini sekarang karena analisis terhadapnya mengharuskan suatu pemahaman tentang apa filsafat illuminasi itu, yang juga menjadi tujuan kita di sini. Harus disebutkan bahwa Suhrawardi membahas secara rinci kedudukan kesadaran diri fundamental subjek yang mengetahui dalam epistemologi. Konsepnya tentang “keakuan” (I-ness, mani) diperluas meliputi “kemauan” (thou-ness, tu’i) dan “kediaan” (shelhelit-ness, u i). Istilah-istilah yang digeneralisasikan ini menunjukkan kesadaran diri dalam subjek yang mengetahui dan nyata (zahir).
  2. Hayakil al-Nur (Kuil Cahaya) baik yang versi Arab maupun Persia. Karya ini juga masuk dalam kategori simbol filsafat illuminasi. Dalam karya ini, Suhrawardi menggunakan penafsiran al-Qur’an (ta’wil) lebih banyak dibanding dalam karya-karya didaktik penting lainnya. Karena saya berencana menyelidiki persoalan penafsiran (ta’wil) dalam metodologi Surahwardi, dengan menggunakan Syarh Hayakil Al-Nur karya Jalal al-Din Al-Dawwani pada kesempatan terpisah, maka saya tidak menguraikannya dalam karya ini.
  3. Cerita-cerita Kiasan Arab dan Persia. Sebelas cerita ini menggambarkan ekspresi “puitis” tentang hasil terakhir pengalaman illuminasi (isyraq). Karya-karya SuhrawardiKalimat al-Tashawwuf (Pepatah tentang Tasawuf) dan al-Alwah al-Imadi (Tabtet-tabtet Imadi), meskipun tidak bersifat kiasan dalam pengertiannya yang kaku, harus dimasukkan dalam kategori karya “puitis” dan kiasan, dan tidak termasuk di antara karya-karya sistematis “teoritis” tentang filsafat illuminasi.

SIFAT KEEMPAT KARYA INI

Pengelompokan kita di sini terhadap empat karya tersebut berbeda dengan skema Corbin tentang “grands strates dogmatiques”. Namun kita ingin melampaui apa yang telah ditegaskan Corbin, dan mengemukakan bahwa keemepat karya tersebut, ketika dipertimbangkan bersama, membentuk suatu unit utuh yang merupakan upaya yang dilakukan oleh Suhrawardi untuk mengemukakan formulasi baru filsafat secara sistematis. Formulasi baru ini menggunakan suatu bahasa teknis khas, mengaksentuasikan tindakan kreatif intuisi, dan berperan sebagai aksioma utama tempat pengetahuan jiwa tentang dirinya adalah dasar dan titik tolak pengetahuan. Tujuan Suhrawardi membangun suatu dasar intuisi bagi pembangunan kembali filsafat Paripatetik adalah tujuan masing-masing dari keempat karya yang disebutkan.

Keempat buku tersebut satu sama lain saling terkait dan membentuk suatu keseluruhan yang meliputi putaran titik tolak dengan filsafat diskursif (hikmah bahtsiyyah) dan berakhir pada filsafat intuitif (hikmah dzauwqiyyah). Pandangan dasar filsafat ini, sebagai upaya penyatuan filsafat diskursif dan intuitif, masing-masing terdapat dalam keempat karya itu dalam bentuk yang berbeda, yaitu setiap dari karya ini menyatukan prinsip-prinsip, kaidah-kaidah, metode, dan istilah-istilah teknis filsafat diskursif dengan filsafat intuitif, tetapi karya pertama dalam lingkup ini, al-Talwihat menekankan filsafat diskursif, sementara karya terakhir dalam lingkup ini, Hikmat al-Isyraq, menekankan filsafat intuitif. Penyatuan semacam itu tidak ditemukan selain dalam empat karya Surahwardi, kecuali Partawnamah, al-Alwah al-‘Imadi, dan Hayakil al-Nur.

PERIODE PENULISAN KARYA-KARYA PENTING :CATATAN TENTANG KEHIDUPAN SURAHWARDI

Sekarang mari kita selidiki fakta-fakta hsitoris yang relevan dalam kehidupan Surahwardi, bukan untuk memberikan biografi kepada pemabca, tetapi untuk menegaskan rentang waktu Suhrawardimenulis karya-karyanya yang penting dan di tempat-tempat ia terlibat dalam pengajaran filsafat illuminasi.

Kita hanya mengetahui beberapa tanggal dan peristiwa tertentu yang rinci dalam kehidupan Surahwardi. Kita tahu bahwa Suhrawardidilahirkan di Desa Suhrawardi di Iran Timur Laut pada 549/1155, dan dihukum gantung di Aleppo pada 587/1191. Ini berarti ia hidup dalam 38 tahun Qamariah dan 36 tahun Syamsiyah. Kita memperoleh informasi bahwa Suhrawardi datang ke Aleppo pada 179/1183. Suhrawardi sendiri menegaskan bahwa ia menyelssaikan Hikmat al-Isyraq pada 582/1186. Sedangkan Syams al-Din Muhammad Syahrazuri menyatakan bahwa Nuzhat al-Arwah-nya bahwa Suhrawardi kira-kira berusai 30 tahun pada saat menyelesaikan, atau mendekati penyelesaian, al-Masyari wa al-Mutharahat (yaitu, buku ini diselesaikan sekitar tahun 579/1183).

Kita dapat berasumsi bahwa Suhrawardi telah menyelesaikan semua studinya sebelum berangkat ke Aleppo dan mungkin sudah menyelesaikan semua tulisan-tulisannya sebelum masa itu. Kita mengenal nama-nama sejumlah gurunya, namun tidak mempunyai informasi yang pasti kapan, atau teks-teks apa atau bentuk-bentuk karya yang ia pelajari bersama mereka. Sejauh yang kita tahu, guru pertama Suhrawardi adalah Majd al-Din al-Jilli, yang mengajarinya filsafat dan teolog di Maragha. Guru Suhrawardi berikutnya adalah Fakhr al-Din al-Mardini (w.594/1198), yang mengajarinya filsafat Isfahan atau Mardin, dan mungkin ia adalah gurunya terpenting.

Kita tahu bahwa Mardin berada di suatu tempat di Aleppo pada tahun Suhrawardi dieksekusi, tempat ia diperkirakan diriwayatkan, tetapi kita tidak tahu apakah ada hubungan antara guru dan muridnya itu di Syiria, juga kita tidak tahu apakah ia memainkan peran, positif atau negatif, dalam intrik yang mengantarkan Suhrawardi pada fitnah dan eksekusi. Penting dicatat bahwa al-Mardini hidup sezaman dengan seorang anti Aristotelian, Abu al-Barakat al-baghdadi (w.setelah 560/1164), dan murid orang yang bernama sama, al-Baghdadi,d an musuhnya di Baghdad;d an ini, mungkin menjelaskan alasan-alasan alin (yang akan kita rinci dalam abgian 2.5 bab ini), mungkin menjelaskan mengapa al-baghdadi adalah salah satu dari sejumlah filosof masa itu yang sering disebut-sebut namanya oleh Surahwardi. Al-Baghdadi, seperti juga Suhrawardi yang mengikutinmya, mengklaim bahwa karya utamanya, al-Mu’tabar telah disusun atas dasar “refleksi pribadi”.

Kedua filosof itu mengakui bahwa kepastian-kepastian intuisi sama sahihnya dengan kepastian-kepastian akal dan persepsi indrawi, dan menegaskan bahwa hanya bentuk kepastian yang terakhirlah yang diterima filsafat Paripatetik. Akhirnya, kita mengetahui nama guru Suhrawardi yang lain, Zahir al-Farsi, yang kepadanya ia belajar al-Basha’ir karya seorang ahli logika terkenal ‘Umar ibn Sahlan al-Sawi (lebih kurang wafat 540/1145), yang dikalangan sejumlah kecil filosof namanya disebut Surahwardi, terutama yang berkaitan dengan prsoalan-persoalan logika. Suhrawardi adalah seorang filosof muda yang meninggalkan tanah airnya dan pergi ke Syiria pada masa kekacauan dan intrik politik, kemudian masuk ke Aleppo apda tahun 579/1183, tempat ia mengajar dan bersahabat dengan putra mahkota Malik Zahir Shah, putra Shalahuddin al-Ayyubi. Lebih jauh, kita tahu tanggal penyusunan dua dari karya-karyanya yang pernting. Berdasarkan informasi yang sangat sedikit ini kita berusaha memastikan kemungkinan rentang waktu penulisan karya-karya Suhrawardi yang penting.

Kita tidak tahu dengan pasti, kapan Suhrawardi menyelesaikan studi, atau kapan ia mulai mengajar dan menulis, namun asumsi-asumsi berikut beralasan untuk dilakukan. Suhrawardi mungkin menyelesaikan studinya dengan al-Jili pada permulaan umur duapuluhan, dan dengan al-Mardini pada pertengahan umur dua puluhan. Mari kita asumsikan bahwa, setelah menyelesaikan studinya, sebuah periode antara tiga sampai lima tahun lewat sebelum masa ketika sekelompok murid atau siswa, yang sering ia sebut sebagai “saudara” atau “sahabat”, mendekatkan diri kepadanya. Untuk merekalah, yang menuntutnya dengan keras, ia menulis kebanyakan karyanya. Ini juga berarti bahwa Suhrawardi telah menyampaikan ajaran-ajarannya pada saat ia mengajar secara lisan sebelum diturunkan dalam bentuk tulisan.

Tidak mungkin karya-karya Suhrawardi yang penting itu ditulis sebelum akhir umur dua puluhan. Suhrawardi paling banter mempunyai waktu sepuluh tahun untuk menyusun semua karya-karyanya yang penting dan, mungkin, kebanyakan karya-karya lainnya termsuk cerita-cerita alegoris. Sekarang, sepuluh tahun bukanlah waktu yang cukup panjang bagi seroang pemikir untuk mempunyai dua masa yang berlawanan dari pemikiran yang dikembangkan seluruhnya. Paripatetik dan Illuminasi, seperti ditunjukan oleh beberapa sarjana. Saya sulit mempercayai hipotesis ini, dan kenyataannya bahwa Suhrawardimenulis sejumlah sinopsis ajaran-ajaran Paripatetik (yang tanggal-tanggal penyuusunanya tidak pasti) kelihatannya tidak mendukung hipotesis itu.

Dalam beberapa hal, keempat karya penting Suhrawardi yang dikaji di sini saling merujuk satu sama lain, dan, penilaian dengan memeriksa luasnya rujukan silang, karya-karya itu disusun kira-kira pada waktu yang bersamaan, atau setidak-tidaknya masing-masing karya itu telah direvisi terus menerus, pada saat diajarkan, dengan memperhatikan pandangan yang lainnya. Barangkali tahun 582/1186, tahun penyelesaian Hikmat al-Isyraq dinyatakan, adalaht ahun ketika sebuah versi telah tersedia, tetapi ia secara meyakinkan direvisi pada akhir kehidupan Suhrawardi sebagaimana buku tersebut diajarkan. Juga pada 579/1183, tahun ketika Suhrawarditelah memasuki Aleppo dan telah menyelesaikan al-Mashari wa al-Mutharahat, bisa jadi telah memiliki “draft” (atau versi) keempat karyanya yang penting, yang ia bahas selama pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Malik Zahir Shah.

ABU AL-BARAKAT AL-BAGHDADI DAN FILSAFAT ILLUMINASI

Abu al-Barakat al-baghdadi termasuk diantara sangat sedikit filosof yang namanya disebut Suhrawardi ketika membahas persoalan-persoalan filsafat tertentu, dan dalam beberapa tempat ia diidentifikasikan dalam manuskrip-manuskrip karya-karya Suhrawardi dalam catatan-catatan pinggir ketika merujuk subjek-subjek yang sedang dibahas dalam teks. Juga Suhrawardi secara jelas menempatkan posisi Platonis Baghdadi dalam beberapa kesempatan – posisi yang ia sendiri lebih menyukainya – dan dalam kaitannya dengan isu-isu kunci filsafat, metodologi al-Baghdadi bergaung dalam permusuhan kembali prinsip-prinsip filsafat Suhrawardi sendiri. Tentang persoalan terpenting mengenai dasar filsafat, baik Suhrawardi maupun Baghdadi sebelumnya, mengambil posisi intuisionis dengan memberikan kepada intuisi utama peran penting dalam bangunan filsafat.

Struktur karya filsafat Baghdadi, al-Mu’tabar, juga terefleksi dalam karya-karya filsafat Surahwardi. Nampaknya, terbukti bagi saya bahwa Baghdadi harus dianggap sebagai seorang sumber langsung yang penting bagi sejumlah pendekatan non-Paripatetik Suhrawardi terhadap persoalan-persoalan filsafat.

Metodologi filsafat Ibn Sina, penggunaannya terhadap istilah teknis dan tujuan filsafatnya sebagai standar dalam memandang filsafat Arab dan Persia kemudian dikaji dan diuraikan lebih jauh. Baghdadi dan Suhrawardi melakukan upaya-upaya serius dalam merumuskan kembali beberapa prinsip filsafat Ibn Sina, sesuatu yang tidak dilakukan filosof itus endiri dalam bentuk yang sitematis semacam itu. Dalam bidang inilah bacaan Suhrawardi terhadap karya filsafat Baghdadi, al-Mu’tabar, akan diselidiki, karena ia akan membantu menjelaskan bangunan filsafat illuminasi.

KNOWLEDGE AND ILLUMINATION
A Study of Surahwardi’s Hikmat al-Isyraq
Hossein Ziai (Guru Besar Universita California Los Angeles)

Artikel Terkait