MEMAHAMI KONSEP ILLUMINASI
Semenjak masa-masa awal abad ini, para orientalis dan sejarawan filsafat mencatat bahwa Suhrawardi adalah tokoh penting dalam membangun pemikiran filsafat pasca Ibn Sina. Sarjana-sarjana terkenal, semisal Carra de Vaux dan Max Horten, telah menulis esensi-esensi pendek tentang Surahwardi. Di akhir tahun duapuluhan, Louis Massignon telah memberikan suatu klaisifikasi karya-karya Surahwari. Pada akhir tahun tiga puluhan, Otto Spies mengedit dan menerjemahkan sejumlah kiasan-kiasan fislafatnya; dan Helmut Ritter membahas aspek-aspek kehidupannya dan membedakannya dari tiga mistikus Muslim yang mempunyai nama yang sama. Memasuki pertengahan tahun empat puluhan, edisi teks Henry Corbin atas karya-karya filsafat Suhrawardi mengobarkan perhatian khusus dalam pemikiran seorang manusia yang secara tradisional dikenal dengan “Guru Filsafat Illuminasi” (Syaykh al-Isyraq).
Dalam tahun-tahun terakhir ini, Seyyed Hossein Nasr telah mengerahkan sejumlah kajian terhadap dimensi spiritual dan keagamaan dalam ajaran-ajaran Surahwardi. Namun, belum ada suatu usaha serius untuk mengkaji dasar-dasar logika dan epistemologi filsafat Illuminasi dari sudut pandang filsafat, dan menyebutkannya dalam sejumlah halaman tesis doktoral Muhammad Iqbal, The Development of Metaphysies in Persia, tetap merupakan catatan umum terbaik atas pemikiran filsafat Surahwardi.
Sarjana-sarjana akhir-akhir ini, terutama Corbin dan Nasr, telah memberikan penekanan pada signifikasi Suhrawardisebagai seorang pembangkit pemikiran Irak kuno. Kedua penulis ini berulang-ulang menunjukkan apa yang mereka anggap sebagai kualitas mistis pemikiran Suhrawardi yang mendasar, namun tanpa upaya kajian sistimatis terhadapa karya-karya filsafat Illuminasi. Karakterisasi umum semacam itu, meskipun berguna, tidak memberikan kepada kita suatu pandangan komprehensif tentang filsafat Illuminasi.
Untuk menilai secara rinci peran Suhrawardi dalam perkembangan pemikiran filsafat Ibn-Sina, seseorang harus menggambarkan karakter pemikirannya. Peran Suhrawardi sebagai perintis “kebijaksanaan” (wisdom) Yunani dan Iran dengan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan keagaamaan dan mistis tidak dapat dibatasi, sebelum melihat penanganannya terhadap problem logika, fisika, matematika dan metafisika. Untuk mengatakan bahwa Suhrawardi adalah seorang mistikus metafisika. Untuk mengatakan bahwa Suhrawardiseorang mistikus yang telah ditakdirkan untuk mengagunggkan dan menghidupkan filsafat dan kebijaksaan Iran Kuno, dan untuk menggambarkannya sebagai seorang wali “perenialis”, “bijak” dan “agung”, tidak harus membatasi hakikat pemikirannya yang sebenarnya – meskipun ia bukan seorang mistikus, teolog, filosof yang sistematis atau ideolog sejumlah bentuk nasionalisme Iran abad pertengahan.
Untuk mengatakan sesuatu yang penting tentang pemikiran Surahwardi, pertama-tama kita harus membatasi hakikat dasar logika dan epistemologi filsafat illuminasi yang jelas. Hanya dengan dasar analisis sistematis semacam itu kita dapat menunjukkan apakah Suhrawardi seorang mistikus atau filosof, atau apakah dan bagaimana dari, filsafat sistematisnya adalah pembelaan, penjelasan, atau sitematisasi atas pengalaman-pengalaman mistis sebagai sebuah metode untuk menyingkap realitas. Untuk melakukan suatu pendekatan sitematis semacam itu, kita harus membatasi terlebih dahulu karya-karya Suhrawardi yang membahas apa yang secara spesifik ia sebut filsafat Illuminasi (Hikmat al-Isyraq).
Surahwadi telah menulis empat karya filsafat yagn penting. Dalam masing-masing karya tersebut ia menguraikan persoalan filsafat dalam bentuk yang sempurna, bahkan masing-masing karya membimbing kepada karya yagn lain,d an terdpat pernyataan-pernyataan yang eksplisit yang diberikan Surahwadi sendiri bahwa keempat karya tersebut saling terkait dan harus dibaca dalam suatu kaidah yang khas. Masing-masing karya mempunyai penekanan yang khas pada istilah, dan bahkan terdpat indikasi-indikasi tertentu bahwa Surahwadi mempunyai suatu tinjauan terhadap keempat karya tersebut ketika ia menulis masing-masing karya itu, dan indikasi lain bahwa seperangkat istilah, yang melengkapi kerangka konseptual karya-karyanya, telah dikembangkan. Kita telah tunjukan, berdasarkan pernyataan-pernyataan Surahwadi sendiri yang eksplisit, keempat karya tersebut adalah berkaitan dan utuh.
Hakikat hubungan yang rumit di antara keempat karya tersebut memerlukan suatu analisis terhadap proses pemikiran yagn diawali dengan al-Talwihat dan berpuncak pada Hikmat al-Irsyaq. Sejauh ini kita telah menyelidiki hubungan antara keempat karya tersebut berdasarkan pernyataan-pernyataan Surahwadi sendiri. Tugas kita berikutnya adalah menyelidiki kandungan karya-karya tersebut. tugas ini tidaklah mudah. Kita berhadapan dengan prsoalan yang “proses”-nya tidak begitu mulus. Ini bukan suatu proses yang dapat dilihat untuk mengawali, dengan menjelaskan ajaran Aristoteles dalam al-Talwihat, diikuti dengan menekankan beberapa persoalan yang secara tepat diselesaikan Aristoteles atau diabaikannya, dan akhirnya berakhir dengan teori yang baru, berbeda, sempurna, dan saling berhubungan yang diketengahkan dalam Hikmat al-Irsyaq.
Kenyataannya, proses tersebut penuh dengan hambatan, pada saat tertentu,d an sangat sering mengandaikan bahwa beberapa hasil penting yang diketengahkan dalam Hikmat al-Irsyaq adalah kesimpulan-kesimpulan dari seri karya “sebelumnya”, atau bahwa mereka hanya dapat dipahami dalam istilah-istilah perkembangan mode pemikiran dari al-Talwihat melalui al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Apa yang menimbulkan kesulitan tersebut adalah gaya dan terminologi Surahwadi, yang kadang-kadang dikhususkan dalam buku tertentu tapi pada saat yagn lain berlaku bagi keempat karya tersebut. perubahan nyata dalam gaya semacam itu karena merupakan bagian dari eksperimen Surahwadi dengan gaya dan analisis filsafat.
Ia menyelidiki suatu idea dalam seri karya terdahulu di dalam suatu kerangka konseptual, metodologi dan metafisika Paripatetik yang telah mapan, dengan menggunakan seperangkat terminologi teknis “standar”, tetapi dengan beberapa perubahan penting, dan baru menyelidiki suatu idea, bahkan idea yang sama, di dalam sebuah cara illuminationis, dengan mencoba menangkap esensi pengalalaman, “keakuan” wujud manusia, dalam kata-kata dan simbol-simbol. Kasus semacam itu ada dalam al-Talwihat, yang diduga sebagai karya yang sepenuhnya Aristoteles. Karena dalam karya ini tidak terdapat metode yang jelas untuk mendekati persoalan-persoalan itu. Sering tanpa peringatan, sebuah idea baru dilempar dan diselidiki dari tempat yang menguntungkan ajaran illuminasi.
Semua ini berarti bahwa kita harus sering membaca kembali keempat karya tersebut untuk memahami kesatuan pemikiran yang mendasari karya-karya tersebut. kita harus mempunyai hasil akhir analisis Surahwadi seperti diketengahkan dalam Hakikat al-Isyraq yang ada di depan kita untuk memahami sepenuhnya karya sebelumnya, yagn dalam gilirannya harus diselidiki dengan cermat jika kita ingin membuat pengertian konstruksi terakhirnya. Ini menuntut kita menyelidiki karya-karya filsafat penting dari dua sudut pandang. Kita harus menyelidiki masing-masing karya secara terpisah untuk menentukan kesatuan pemikirannya dan cara yang di dalamnya persoalan-persoalan filsafat, dan akhirnya kita harus menyelidiki karya-karya tersebut secara keseluruhan, dengan menilai mereka sebagai kesatuan yang sebenarnya untuk menemukan kembali pemikiran Surahwadi yang utuh. Setelah penyelidikan ganda semacam itu, kita berada dalam posisi mengemukakan penilaian yang bertalian secara logis atas filsafat illuminasi.
KNOWLEDGE AND ILLUMINATION
A Study of Surahwardi’s Hikmat al-Isyraq
Hossein Ziai (Guru Besar Universita California Los Angeles)