Sabtu, 10 Agustus 2024

Menjelajahi Dunia Hikmat Isyraq Suhrawardi

Karya Suhrawardi yang paling terkenal adalah Hikmat al-Irsyaq. Ini adalah karya terakhir dari empat karya yang diselidiki di sini, karya yang di dalamnya prinsip-prinsip filsafat illuminasi secara sistematis, meskipun singkat, diketengahkan dalam bentuk yang indah dan sempurna. Ia adalah karya yang disebut Suhrawardi memuat pengertian intuitifnya sendiri tentang dasar filsafat. Juga karya yang secara sistematis memformulasikan hasil-hasil yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman mistis Suhrawardi sendiri dan menggabungkannya dalam membangun kembali filsafat.

Karya ini memuat formulasi terakhir sistem baru Suhrawardi dengan secara jelas dan dalam suatu bentuk simbolik, rincian-rincian yang telah dikemukakan dalam ketika karya yang telah disebutkan. Bahkan karya ini juga memuat metodologi, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip filsafat diskursif dan illuminasi. Pencampuran antara filsafat diskursif (al-Hikmah al-bahtsiyyah) dan filsafat intuitif (al-Hikmah al-dzawq) yang harmonis dan sempurna adalah tujuan dan tanda khas filsafat illuminasi.

Hanya al-Talwihat dan al-Lamahat yang dirujuk Suhrawardi dalam Hikmat al-Irsyaq. Quthb al-Din al-Syirazi, dalam Syarh Hikmat al-Isyraq, menegaskan bahwa ini menunjukkan Suhrawardi telah memulai menulis, meskipun belum sempurna, karya-karya yang lain sebelum menyusun Himat al-Isyraq. Seperti telah kita sebutkan di muka, Suhrawardi pasti telah menulis atau merevisi karya-karyanya yang penting bersamaan, Suhrawardi tidak menyebut al-Masyari’ wa al-Muthaharat dalam Hikmat al-Irsyaq secara khusus, tetapi signifikasi karya tersebut telah diketahui. Namun, Quthb al-Din yakin bahwa, pernyataan Suhrawardi, “Saya telah menyusun al-Talwihat dan berikutnya al-Lamahat, dan lain-lain yang mengikuti metode Paripatetik. Suhrawardi memaksudkan “lain-lain” adalah al-Masyari’ wa al-Mutharahat dan al-Muqawamat. Dengan melihat apa yang telah saya katakan di atas, saya tidak sependapat dengan pandangan ini. Dengan menyebut al-Talwihat, Suhrawardi, pada dasarnya, telah merujuk kepada al-Muqawamat, akrena kita tahu yang terakhir ini adalah penjelas bagi yang pertama.

Juga, seperti telah kami tunjukkan, al-Masyari’ wa al-Mutharahat bukanlah karya yang disusun hanya menurut “metode Paripatetik”. Dengan meninjau pernyataan-pernyataan Suhrawardi yang diulang-ulang menggambarkan pentingnya al-Masyari’ wa al-Mutharahat bagi suatu pemahaman yang benar-tentang filsafat illuminasi, kita tidak dapat menempatkan karya tersebut dalam kategori yang sama dengan al-Lamahat, dan yang demikian itu tidak menguranginya sebagai tidak relevan untuk mempelajari filsafat illuminasi. Dengan tidak menyebut al-Masyari’ wa al-Mutharahat pada bagian “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq, Suhrawardi barangkali ingin menunjukkan apa yang telah jelas bagi sahabat-sahabatnya bahwa karya tersebut tidak harus dimasukkan ke dalam karya-karya yang disusun sebagai ringkasan didaktik filsafat illuminasi. Karya semisal Risalah fi I’tiqad al-Hukama (Ajaran para filosof) lebih tepat untuk pernyataan Suhrawardi “lain-lain” dalam bagian itu, karena dirancang secara lebih tepat sebagai ringkasan singkat ajaran Paripatetik,d an secara sangat jelas berada dalam bentuk ekspresi Paripatetik.

Seperti kita selidiki, Hikmat al-Isuraq sendiri merupakan puncak tujuan filsafat Suhrawardi : Suatu rekonstruksi filsafat yang sistematis. Ini telah dia awali dengan al-Talwihat, disempurnakan lebih jauh dalam al-Muqawamat dan dirumuskan sepenuhnya dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat. Hikmat al-Isyraq hanya dapat dipahami jika dianggap sebagai rentetan rekonstruksi filsafat yang secara hati-hati disusun Suhrawardi dalam keempat karyanya yang penting, meskipun ia sebagai karya terpenting dalam rentetan itu. Karya tersebut dianggap oleh Suhrawardi sendiri sebagai yang terbaik dalam “Pendahuluan”-nya yang sekarang akan kita selidiki.

“Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq menguraikan tiga subyek yang mendasari rekonstruksi fislafat illuminasi, ia juga mengemukakan tujuan-tujuan pengarangnya. Subjek pertama menguraikan alasan-alasan Suhrawardi menyusun karya-karya tersebut dan kelompok orang-orang yang menjadi tujuan buku ini. Kedua mengarahkan persoalan metodologi. Ketika menguraikan sejarah filsafat, begitu juga tempat filsafat illuminasi dan kedudukan apra filosof “yang bijak” dalam sejarah. Mari kita selidiki ketiga subjek yang dipersoalkan tersebut.

ALASAN-ALASAN SURAHWARDI MENYUSUN HIKMAT AL-ISYRAQ

Seperti kebanyakan karya Suhrawardi, Hikmat al-Isyraq sebenarnya ditulis sebagai hasil permintaan yang terus menerus dari sahabt-sahabat dan murid-muridnya. Seperti telah kita catat implikasi pernyataan semacam itu adalah pokok masalah karya-karya Suhrawardi kemungkinan telah diajarkan secara lisan kepada kelompok sahabatnya sebelum diturunkan dalam bentuk tulisan. Pada gilirannya mendorong, dalam konteks wacana lisan yang telah diberikan oleh Suhrawardi para murid mempunyai kesempatan ikut serta dalam pembahasan ajaran-ajaran utama filsafat illuminasi dan tujuan terdalam simbolisme yang digunakan dalam karya-karya tertulisnya.

Penggambaran simbolik ajaran iiluminasi adalah suatu komponen integral moetode Suhrawardi, seperti ia tunjukan sendiri dalam berbagai-bagai kesempatan, yaitu dalam bagian keempat “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq. Kita juga masih ingat “kesulitan-kesulitan”, menurut Suhrawardi, dasar-dasar filsafat illuminasi yang menjadi perhatian untuk ditulis. ‘Kesulitan-kesulitan” semacam itu barangkali karena komplikasi-implikasi di dalamnya yang dimasukkan dalam tulisan perihal unsur kualitatif pengalaman tempat yang mode ungkapan lisan, “kehadiran” (Hudhur) guru yang telah mengalaminya sendiri, menyaksikan persaksian langsung.

Namun, terdapat cukup indikasi dalam tulisan-tulisannya yang jika diselidiki dengan cermat, memungkinkan kita menembus makna simbol-simbol yang dimaksudkan. Yang demikian itu mengantarkan kita membangun pandangan tentang apa filsafat illuminasi Suhrawardi itu. Makna-makna bahasa metafor yang dimaksudkan, di sini dan di tempat lain, diselidiki Suhrawardi sendiri sebagai contoh, dan lebih jauh oleh para komentatornya.

Ada pernyataan yang tidak biasa dibuat oleh Suhrawardi di awal ‘Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq,d an pernyataan itu tidak pernha diulang Suhrawardi dalam karya-karya yang lain. Pernyataan tersebut dapat diterjemahkan dalam dua cara dengan implikasi yang berbeda. Pernyataan tersebut adalah :

Jika bukan karena keharusan memenuhi suatu kewajiban, suatu pesan yang telah muncul,d an suatu kewajiban yang telah diberikan dari suatu ketidaktaatan yang akan mengantarkan kepada jalan yang sesat, saya tidak pernah merasa wajib untuk melangkah lebih jauh dans ecara terbuka menyingkap filsafat illuminasi.

Penafisaran pertama atas pernyataan tersebut, yang salah satunya dikemukakan komentator Quthb al-Din al-Syirazi, bahwa “sumber” dari perintah yang diberikan itu adalah Tuhan. Cara kedua menafsirkan pernyataan tersebut adalah dengan menganggap sumber perintah yang diberikan itu sesuatu yang membumi, yang bisa jadi ditetapkan seorang pangeran atau raja.

Kenyataan yang demikian itu tidak mustahil, suatu motif politis untuk menyusun suatu karya. Kita tahu bahwa pada 579/1183 Suhrawardi pergi ke Aleppo, tempat Hikmat al-Isyraq ditulis pada 582/1186, dan bahwa natara Malik Zhahir Syah al-Ayyubi dan Suhrawardi terdapat hubungan baik. Karenanya, adalah mungkin bahwa printah menulis Hikmat al-Irsyaq telah diberikan oleh Malik Zahir Syah kepada Suhrawardi, setelah mendengar ceramah Suhrawardi tentang filsafat Illuminasi. Kita tahu bahwa Suhrawardi dibunuh atas dorongan beberapa ulama yang ada di sekitar Malik muda, yang menghasud ayahnya, Sultan Saladin Agung bahwa Suhrawardi telah menyelwengkan syariat.

Namun, ada alasan-alasan politis yang lebih khusus atas intrik tersebut. apakah mungkin ada suatu hubungan antara penulisan bebas dan penerbitan Hikmat al-Irsyaq yang, nampaknya, Suhrawardi dengan berat mengalah pada intrik politik yang mengantarkannya pada kematian? Jika memang demikian, lalu apa? Yang demikian bukanlah tidak mungkin, juga bukan tanpa presenden bahwa filosof mempunyai keinginan mempengaruhi seseorang penguasa yang telah mempunyai hubungan baik.

Di atas semuanya itu, abad ke-11 dan ke-12 telah menyaksikan beberapa intrik politik para kaum esoteris dan mistikus dan lain-lain yang cenderung filosof dan termotivasi secara politis. Sepertinya Hikmat al-Irsyaq telah dipandang sebagai “konstitusi” bagi “masyarakat” baru yang dipimpin oleh Malik Zahir Syah yang secara filosofi terpelajar dengan bantuan filosof Suhrawardi, yang berperan sebagai kekuatan spiritual di belakang istana. Melalui raja telah mengakses “kebijaksanaan” terlarang yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan illuminasi filosof bijak di istananya.

Rancangan semacam itu, seperti telah saya katakan, bukanlah tanpa presenden. Ini barangkali yang menjadi alasan kuat atas intrik istana yang sebenarnya menyebabkan eksekusi Suhrawardi. Alasan semacam itu akan melibatkan reaksi-reaksi atas rencana, yang dipelopori oleh Suhrawardi, pembentukan tatanan baru (setidak-tidaknya) di Aleppo,d an sangat terbuka dalam memandang kenyataan bahwa tak seorang pun sejarawan filsafat dapat mengakhiri alasan kuat atas kalimat kematian Suhrawardi, kecuali penjelasan yang ambigu bahwa para hakim Aleppo telah menganggap ajaran-ajaran Suhrawardi bid’ah.

METODE HIKMAT AL-IRSYAQ

Pernyataan pendek dan tepat yang dibahas Suhrawardi dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Irsyaq adalah sebgai pendukung teori umum filsafat illuminasi, terutama posisi intuisi dan pengalaman sebagai dasar epistemologi. Di antara semua karya Suhrawardi, hanya “Pendahuluan” dua di antara mereka, al-Masyari wa al-Mutharahat dan Hikmat al-Irsyaq, yang memuat pernyataan khusus tentang metodologi filsafat illuminasi. Dalam “pendahuluan” al-Masyari’ wa al-Mutharahat Suhrawardi menyebut buku tersebut mengandung suatu eksposisi hasil-hasil pengalaman dan intuisinya sendiri, dan lebih jauh menegaskan pandangan tentang bagaimana pengetahuan diperoleh.

Prinsip-prinsip yang dibentuk ini sebagai hasil suatu proses yang terdiri dari tiga tangga. Tanga pertama ditandai dengan aktivitas sebagian filosof : ia harus “memisahkan dunia”. Tangga kedua ditandai dengan pengalaman-pengalaman tertentu : filosof mencapai pancaran-pancaran suatu “Cahaya Tuhan” (al Nur al-Illahi). Tangga ketiga ditandai dengan perolehan pengetahuan yang tak terbatas dan tak terikat, yaitu pengetahuan illuminasi (al-‘ilm al-isyraqi). Catatan Suhrawardi atas persoalan metodologi yang sama dalam “Pendahuluan” Hikmat al-Isyraq lebih jelas dan rinci, tetapi secara esensial sama dengan catatan yang diberikan dalam al-Masyari’ wa al-Mutharahat.

Filsafat illuminasi terdiri dari tiga tingkat yang berkaitan dengan persoalan pengetahuan – bagaimana mempersiapkan mengalaminya, menerimanya melalui illuminasi,d an menyusunnya dalam suatu pandangan yang sistematik tentangnya, seperti dalam karya sebelumnya – ditambah dengan suatu tingkat tambahan yang terdiri dari proses mengungkapkan hasil-hasil pengalaman illuminasi dan pencarian tentangnya, dalam bentuk tulisan. Karena kita menyelidiki tahap-tahap yang disebutkan secara lebih rinci lebih jauh kita menyelidiki bahwa tangga pertama adalah aktivitas yang melaluinya filosof mempersiapkan dirinya sendiri bagi pengetahuan illuminasi, suatu jalan hidup tertentu yang harus ia ikuti untuk sampai pada keseiapan menerima “pengalaman”. Tahap kedua adalah tangga illuminasi. Tahap ketiga adalah tahap konstruktiif. Tahap terakhir ini menggambarkan secara simbolik setiap kali diperlukan,d alam bentuk tulisan, struktur yang telah dibangun selama tangga ketiga. Mari kita selidiki tahapan-tahapan tersebut.

Awal tahap pertama diawali dengan aktivitas-aktivitas seperti mengasingkan diri selama empat puluh hari, berhenti makan daging,d an mempersiapkan diri untuk menerima inspirasi dan ilham. Aktivitas-aktivitas semacam itu masuk dalam kategori praktik-praktik asketik dan mistik, meskipun tidak sama persis dengan pernyataan-pernyataan dan penghentian-penghentian jalan sufi yang diterapkan, atau tarekat sufi, sebagaimana dikenal dalam karya-karya mistis yang ditemua Surahwardi.

Melalui aktivitas-aktivitas semacam itu, filosof dengan kekuatan intuisinya, dalam dirinya, seperti diceritakan Surahwadi kepada kita, terdapat suatu bagian “cahaya Tuhan” (al-bariq al-ilahi), dapat menerima realitas keberadaannya dan mengakui kebenaran intuisinya sendiri melalui “ilham” dan “penyingkapan diri” (musyahadah ma mukasyafah). Atas dasar itu, tahap pertama ini terdiri dari :

  1. suatu aktivitas,
  2. suatu kondisi (yang ditemui seseorang, karena kita tahu bahwa setiap orang mempunyai intuisi dan dalam diri setiap orang ada bagian tertentu cahaya Tuhan); dan
  3. ilham pribadi.

Tahap pertama megnantarkan kepada tahap kedua, dan Cahaya Tuhan memasuki wujud manusia. Cahaya ini mengambil bentuk serangkaian “cahaya penyingkap” (al-anwar al-sanihah) dan melalui “cahaya-cahaya penyingkap” pengetahuan yang berperan sebagai pengetahuan yang sebenarnya (al-‘ulum al-haqiqiyyah) dapat diperoleh.

Tahap ketiga adalah tahap pembangunan suatu ilmu yang benar (al-‘ilm al-shahih). Selama tahap ini, filosof menggunakan analisis diskursif. Pengalaman ditempatkan pada pengujian, dan sistem pembuktian yang digunakan adalah pembuktian (burhan) Posterior Analyties Aristoteles. Kepastian yang sama yang diperoleh oleh gerakan dari data indrawi (observasi dan formasi konsep) ke pembuktian didasarkan pada akal, yang juga menjadid asar pengetahuan ilmiah diskursif, yang dikatakan dapat diperoleh jika data visoner yang mendasari filsafat illuminasi juga di-“buktikan”. Ini dilakukan lewat suatu analisis diskursif yang ditujukan untuk membuktikan pengalaman dan membangun suatu sistem tempat pengalaman itu sudah berakhir.

Tahap terakhir adalah menurunkan filsafat illuminasi dalam bentuk tulisan. Tahap ini,d an tahap ketiga yang telah disebutkan di muka, hanya merupakan unsur-unsur filsafat illuminasi yang harus ktia akses. Para praktisi, murid jalanilluminasi, harus berperantara kepada kedua tahap pertama melalui pengalaman. Para murid yang mengikuti sikap Surahwadi akan mengalami “kehadiran” pengalaman mereka sendiri, apakah secara individu atau sebagai bagian suatu kelompok. Surahwadi mungkin telah (kita mengasumsikan demikian berdasarkan pada indikasi-indikasi dalam teks), mendiskusikan visi-visinya dengan murid-muridnya; jalan personal “kehadiran”-nya, akan berperan sebagai saksi bagi visi-visi semacam itu, dan manifestasi fisik, fenomena yang diselidiki, diasosiasikan dengan pengalaman visioner, yang digambarkan dalam Hikmat al-Isyraq, telah disaksikan oleh seorang yang hadir. Apa yang harus kita akses adalah teks-teks yang dikatakan sebagai penggambaran simbolik tentang fenomena pengalaman visioner, dan kita harus menentukan apa yang mereka simbolkan.

KNOWLEDGE AND ILLUMINATION
A Study of Surahwardi’s Hikmat al-Isyraq
Hossein Ziai (Guru Besar Universita California Los Angeles)

Artikel Terkait