Sabtu, 03 Agustus 2024

Nashiruddin At-Tusi, Metafisika dan Logika

METAFISIKA

Menurut Tusi, matematika terdiri atas dua bagian, ilmu ketuhanan (‘ilm-i Ilahi) dan filsafat pertama (falsafah-i ula). Pengetahuan tentang Tuhan, akal dan Jiwa merupakan ilmu ketuhanan, dan pengetahuan mengenai alam semesta dan hal-hal yang berhubungan dengan alam semesta merupakan filsafat pertama. Pengetahuan tentang kelompok-kelompok ketunggalan dan kemajemukan, kepastian dan kemungkinan, esensi dan eksistensi, kekekalan dan ketidak kekalan juga membentuk bagian dari filsafat pertama tersebut. Di antara cabang (furu’) metafisika itu termasuk pengetahuan kenabian (nubuwat), kepemimpinan spiritual (imamat), dan Hari Pengadilan (qiyamat), Jelajah subyek itu sendiri menunjukkan bahwa metafisika merupakan “esensi filsafat Islam dan lingkup sumbangan utama bagi sejarah gagasan-gagasan.”

TUHAN

Setelah menyangkal kemungkinan logis ateisme dan adanya dualitas pokok, Tusi, tidak seperti Farabi, ibn Msikawaih dan ibn Sina, mengemukakan bahwa logika dan metafisika sama sekali tidak dapat membuktikan eksistensi Tuhan secara rasional. Sebagai penyebab utama bagi adanya bukti-bukti, dan karenanya merupakan dasar dari semua logika dan metafisika. Dia sendiri tidak bergantung kepada bukti-bukti logis. Sebagaimana hukum-hukum dasar dari logika formal, ia tidak memerlukan dan memberikan kemungkinan untuk pembuktian. Ia adalah prinisp logika kosmik yang bersfat a priori, mendasar, perlu dan membuktikan diri. Eksistensi-Nya harus diterima dan dianggap sebagai postulat, bukannya dibuktikan. Dari studi kehidupan moral pun, Tusi sampai pada kesimpulan yang sama dan, seperti Kant di zaman modern, dia beranggapan bahwa eksistensi Tuhan merupakan suatu pstulat pokok etika.

Selanjutnya, Tusi mengemukakan bahwa bukti mengisyaratkan pemahaman sempurna tentang sesuatu yang harus dibuktikan; dan karena mustahil bagi manusia yang terbatas untuk memahami Tuhan di dalam keseluruhan-Nya, maka mustahil pula bagi manusia untuk membuktikan eksistens-Nya.

CREATIO EX IHILO

Persoalan mengenai apakah dunia itu kekal (qadim) atau diciptakan oleh Tuhan dari ketidakadaan (hadis), merupakan salah satu masalah yang paling membingungkan dalam filsafat Muslim. Aristoteles mendukung pendapat bahwa dunia ini kekal, menyifatkan gerakannya pada penciptaan Tuhan. Sang Penggerak Utama. Ibn Miskawaih setuju dengan Aristoteles yang menganggap Tuhan sebagai penyebab adanya gerakan; tapi, tidak seperti filosof Yunani itu, dia mengemukakan bahwa dunia ini, baik dalam bentuk maupun materinya, diciptakan oleh Tuhan dari ketakadaan. Tusi dalam karyanya Tashawwurat (yang ditulis pada masa pemerintahan Ismailliah) melakukan suatu upaya perujukan secara setengah hati antara Aristoteles dan ibn Miskawaih. Dia memulai dengan mengecam doktrin creatio ex nihilo. Pandangan yang menyatakan adanya waktu ketika dunia ini belum maujud dan kemudian Tuhan menciptakannya dari ketiadaan, secara jelas mengisyaratkan bahwa Tuhan bukanlah pencipta sebelum adanya penciptaan dunia ini atau kekuatan penciptaan-Nya masih bersifat potensial yang di kemudian hari baru diwujudkan, dan ini merupakan sangkalan atas daya Cipta-Nya yang kekal. Oleh sebab itu, logisnya, Tuhan itu selamanya merupakan pencipta yang mengaitkan eksistensi penciptaan kepada Diri-Nya. Dunia ini, dengan kata lain, merupakan suatu yang sama kekalnya dengan Tuhan. Di sini Tusi menutup pembahasan ini secara tiba-tiba dengan mengemukakan bahwa dunia ini kekal karena kekuasaan Tuhan yang menyempurnakannya, meski, dalam hak dan kekuatannya sendiri, ia tercipta (muhadats).

Dalam karyanya yang belakangan, Fushul (risalahnya yang terkenal dan panyak diulas), Tusi meninggalkan sikapnya tersebut di atas itu sekaligus seraya mendukung sepenuhnya doktrin ortodoks mengenai creatio ex nihilo. Dengan menggolongkan Zat menjadi yang pasti dan yang mungkin, dia mengemukakan bahwa iksistensi yang mungkin itu bergantung kepada yang pasti; dan karena ia maujud akibat sesuatu yang lain dari dirinya, maka tidak dapat dikatakan bahwa ia dalam keadaan maujud, sebab penciptaan yang maujud itu mustahil. Dan karena sesuatu yang tidak maujud itu tidak ada, maka begitu juga Kemaujudan Yang Pasti itu menciptakan yang mustahil itu dari ketiadaan. Proses semacam itu menciptakan disebut penciptaan dan hal-hal yang ada itu disebut yang tercipta (muhadats).

Begitu pula, dalam Tashawwurat, Tusi setuju dengan ibn Sina yang berpendapat bahwa dari satu ketiadaan dapat muncul satu, dan dengan mengikuti prinsip ini dia menerangkan asal (shudur) dunia ini dari Kemaujudan Yang Pasti itu dengan gaya Neo-Platonik. Dalam karyanya Risaleh-i ‘Aql, Risaleh-i ‘Ilal wa Ma’lulat dan Syarh-i Isyarat dia juga mendukung, baik secara logis maupun matematika, penjamakan dalam proses penciptaan sebagai suatu keseluruhan. Tapi dalam karya berikutnya, Quwa’id al-Aqa’id, Tajrid al-‘Aqa’id, dan Fushul, dia secara jelas menyerang dan menumbangkan dasar paling penting dari prinisp ini, yang sebelumnya amat dia percayai. Refleksi akal pertama dikatakannya sebagai telah menciptakan akal, jiwa dan tubuh lingkungan pertama. Dikemukakannya bahwa sikap ini secara jelas mengisyaratkan kemajemukan pada yang tercipta oleh akal pertama, yang bertentangan dengan prinisp bahwa satu ketakadaan muncul satu.

Sedangkan mengenai sumber kemajemukan, lebih jauh dia mengemukakan bahwa kemajemukan bisa maujud melalui wewenang Tuhan dan bisa pula tanpa wewenang Tuhan. Jika ia maujud karena wewenang Tuhan, maka tidak ada keraguan lagi bahwa ia datang dari Tuhan.di lain pihak, jika ia maujud tanpa wewenang Tuhan, itu berarti adanya tuhan selain Allah.

Lagi-lagi, dalam Tashawwurat, Tusi berpandangan bahwa refleksi Tuhan sepadan dengan penciptaan dan merupakan hasil dari kesadaran diri-Nya. Tapi dalam Fushul dia meninggalkan sikap itu sepenuhnya. Di situ dia menganggap Tuhan sebagai pencipta yang bebas dan menumbangkan teori mengenai penciptaan karena desakan. Jika Tuhan mencipta karena Dia butuh mencipta, Tusi mengemukakan, berarti tindakan-tindakan-Nya tentu berasal dari esensi-Nya. Dengan begitu, jika satu bagian dari dunia ini menjadi tak maujud, maka esensi Tuhan itu tentu juga menjadi tiada; karena peneybab keberadaannya itu ditentukan oleh ketiadaan satu bagian dari penyebabnya, hal itu selanjutnya ditetapkan oleh ketiadaan bagian-bagian lain dari penyebabnya, dan seterusnya. Dan karena semua yang ada itu bergantung kepada perlunya Tuhan, maka ketiadaan mereka akhirnya menjadikan ketiadaan Tuhan sendiri.

KENABIAN

Setelah menetapkan kebebasan berkehendak dan kebangkitan kembali tubuh, Tusi lalu menetapkan perlunya kenabian dan kepemimpinan spiritual. Pertentangan minat serta kebebasan individu mengakibatkan tercerai-berainya kehidupan sosail, dan ini memerlukan Aturan suci dari Tuhan untuk mengatur urusan-urusan manusia. Tapi Tuhan sendiri berada di luar jangkauan indera, oleh karena itu Dia mengutus para nabi untuk menuntun orang-orang. Ini, pada gilirannya, memerlukan perantara kepemimpinan spiritual setelah para nabi itu untuk menerapkan Aturan suci tersebut.

BAIK DAN BURUK

Bik dan buruk terdapat di dunia ini. Penonjolan yang buruk tidak sesuai dengan kebaikan Tuhan. Untuk menghindari kesulitan ini, kaum Zoroester menganggap bahwa cahaya dan kebaikan berasal dari Yazdan, sedangkan kegelapan dan keburukan dari Ahriman. Tapi keberadaan kedua prinsip yang setingkat dan netral itu sendiri melibatkan suatu ketidaksesuaian metafisik. Dengan menolak pendangan tentang dasa ini, Tusi menjelaskan realitas dan obyektifitas keburukan dengan dorongan ibn Sina, leluhur spiritaulnya.

Menurut Tusi, yang baik datang dari Tuhan, sedangkan yang buruk muncul sebagai kebetulan (‘ard) dalam perjalanan yang baik itu. Kebaikan, misalnya, merupakan bijih gandum yang ditaburkan di atas tanah dan disirami sehingga tumbuh menjadi tanaman dan menghasilkan panen yang melimpah. Keburukan itu seperti busa yang muncul di atas permukaan air, bukan dari air itu sendiri. Dengan begitu maka tidak ada prinsip buruk di dunia ini, tapi sebagebetulan, ia merupakan suatu kebetulan yang diperlukan atau hasil dari suatu hal.

Dalam dunia manusia, keburukan kadang terjadi lantaran kesalahan penilaian atau penyalahgunaan karunia Tuhan yang berupa kehendak bebas. Tuhan sendiri menghendaki kebaikan yang menyeluruh, tapi selubung indera, imajinasi, kesenangan dan pikiran menutupi pandangan kita dan mengaburkan pandangan mental kita. Dengan begitu maka kebijaksanaan tidak berhasil memperkirakan akibat-akibat dari tindakan, yang mengakibatkan adanya kesalahpilihan, yang pada gilirannya menimbulkan keburukan.

Lagi, penilaian kita mengenai keburukan selalu relatif sifatnya dan juga metaforis, yaitu bahwa penilaian selalu mengacu pada sesuatu. Misalnya, ketika api membakar gubuk milik seorang miskin atau banjir melanda sebuah desa, suatu pemburukan pada api atau air, malah ketiadaan keduanya akan merupakan suatu keburukan penuh bila dibandingkan dengan keburukan yang kadang ditimbulkan oleh keberadaan keduanya.

Akhirnya, keburukan muncul dari kebodohan, atau akibat dari cacat fisik, atau kekurangan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan. Ketakhadiran siang adalah malam, kekurangan harta adalah kemiskinan, dan ketiadaan kebaikan adalah keburukan. Oleh karena itu, pada hakikatnya, keburukan merupakan ketiadaan sesuatu – sesuatu yang negatif, bukan positif.

Mengenai mengapa suatu dosa yang terbatas dikenai hukuman yang tak terbatas dari Tuhan, Tusi menjawab bahwa merupakan suatu kesalahan untuk menisbahkan pahala atau hukuman kepada Tuhan. Sebagaimana yang baik, pada dsarnya dan mesti, pantas menerima karunia dan kebahagiaan abadi, maka yang tidak baik juga, pada dasarnya dan mesti, pantas menerima hukuman dan kesedihan abadi pula.

LOGIKA

Mengenai logika, karya-karyanya meliputi Asas al-Iqtibas Syarh-i Mantiq al-Isyarat, Ta’dil al-Mi’yar dan Tafrid fi al-Mantiq. Yang disebut pertama tadi memberikan penjelasan yang gamblang mengenai masalah itu dalam bahasa Persi atas dasar logika ibn Sina dalam al-Syifa.

Tusi menganggap logika sebagai suatu ilmu dan suatu alat-ilmu. Sebagai ilmu, ia bertujuan memahami makna-makna dan sifat dari makna-makna yang dipahami itu; sebagai alat, ia menjadi kunci untuk memahami berbagai ilmu. Kalau pengetahuan tentang makna dan sifat dari makna-makna itu menjadi sedemikian berurat-berakar di dalam pikiran sehingga tidak diperlukan lagi pemikiran dan refleksi, maka ilmu logika menjadi suatu seni yang bermanfaat (san’at), yang membebaskan pikiran dari kesalahpengertian di satu pihak dan kekacauan di pihak lain.

Setelah mendefinisikan logika, Tusi, sebagaimana ibn Sina, memulai dengan pembahasan pendek mengenai teori pengetahuan. Semua pengetahuan adalah konsep (tashawwur) atau penilaian (tashdiq); yang pertama bisa di dapat lewat definisi dan yang kedua lewat silogisme. Dengan begitu maka definisi dan silogisme merupakan dua alat untuk mencapai pengetahuan.

Tidak seperti Aristoteles, ibn Sina membagi semua silogisme menjadi silogisme kopulatif (iqtirani) dan silogisme ekseptif (istitsna’i). Tusi mengikuti pembagian ini dan menggabungkannya dengan caranya sendiri. Karya-karyanya dalam bidang logika secara garis besar bercorak logika Aristoteles, tapi dia menyebutkan empat dan bukannya tiga bentuk silogisme; dan sumber dan bentuk keempat ini terdapat pada Organon-nya Aristoteles atau apda karya-karya logikanya ibn Sina.

TINJAUAN

Tusi, sebagaimana telah kita ketahui berutang kepada ibn Miskawaih dalam hal logika dan Farabi dalam hal politik; tapi tak satu pun dari mereka mencapai kedalaman dan keluasan pengaruh ibn Sina atas dirinya. Logika, metafisika, psikologi, il,mu rumah tangga dan dogmatiknya Tusi – pada dasarnya berasal dari ibn Sina. Di samping itu, hubungannya yang lama, sekalipun tak begitu akrab, dengan Nizari Ismailliah telah mempengaruhi spekulasietik, psikologi dan metafisiknya. Dari segi sejarah, kedudukannya terutama adalah sebagai seorang penganjur gerakan kebangkitan kembali. Tapi dari segi sejarah kebudayaan, bahkan kembali tradisi filsafat dan ilmiah, terutama pada masa kejatuhan politik dan intelektual, meski ditandai dengan pengetahuan dan pengulangan yang melelahkan, tidak kurang pentingnya dibandingkan permulaan, sehingga hal itu mempersiapkan landasan bagi kelahiran kembali intelektual suatu bangsa.

Artikel Terkait