Rabu, 01 Januari 2025

Abdullah ibn Ruwahah

Abdullah ibn Ruwahah adalah seorang sahabat Nabi saw. dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Khazraj keturunan Bani Haritsi. Ia dikenal sebagai penyair ulung. Ayahnya bernama Haritsah ibn TsaMabah ibn Imri al-Qais dan ibunya bernama Kabsyah bint Waqid. Ia punya beberapa nama panggilan, antara lain Abu Muhammad, Abu Ruwahah, dan Abu Amr.

Abdullah ibn Ruwahah termasuk di antara tiga penyair Rasulullah, dua orang lainnya adalah Ka‘b ibn Malik dan Hassan ibn Tsabit—keduanya pun orang Anshar. Abdullah ibn Ruwahah memeluk Islam setelah mendengarkan bacaan AlQuran Mush‘ab ibn Umair. Dikisahkan bahwa suatu hari, secara tak sengaja ia mendengar Mush'ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam. Ia tertarik mendengar penjelasannya dan merasa tak dapat memungkiri kebenaran Islam. Ia sangat yakin bahwa apa yang didengarnya sangat layak untuk dimuliakan. Ketertarikan itu menuntunnya menemui Mush‘ab untuk menyatakan keislamannya. Sejak saat itulah ia kerap menghadiri majelis ilmu yang digelar oleh Mush‘ab ibn Umair. Ia menemukan ketenangan dan ketenteraman di tempat yang sederhana itu.

Bersama 70 laki-laki dan dua wanita muslim, Abdullah ikut berangkat ke Makkah dan menyatakan sumpah setia kepada Rasulullah di Aqabah. Baiat itu menegaskan janji yang telah mereka ucapkan di hadapan Mush'ab ibn Umair. Mereka memang telah berencana untuk menemui Rasulullah saw. pada musim haji tahun itu, tepatnya pada pertengahan hari tasyriq. Di selasela pertemuan tersebut Rasulullah saw. memerintahkan agar mereka memilih dua belas pimpinan, tiga orang dari suku Aus dan sembilan orang dari suku Khazraj. Abdullah ibn Ruwahah salah satunya. Dalam pertemuan itu mereka menyatakan janji setia kepada Nabi Muhammad, dan kesediaan mereka untuk melindungi dan membantu beliau. Usai pertemuan mereka kembali ke Madinah untuk mengajarkan Islam kepada keluarga dan kaum masing-masing. Sejak pertemuan itu, kaum muslim di Madinah terus menunggu kedatangan Rasulullah setiap saat. Ketika beliau tiba di Madinah bersama Abu Bakr r.a., seluruh penduduk Madinah, lelaki maupun perempuan, tua maupun, begitu juga anak-anak, berhamburan ke gerbang Madinah untuk menyambut beliau. Mereka berbaur menyambut kedatangan sang tamu agung. Hari itu adalah hari paling bersejarah bagi penduduk Madinah.

Nabi Muhammad pernah bersabda kepada Abdullah ibn Ruwahah dan kedua sahabatnya sesama penyair Ka‘b ibn Malik dan Hassan ibn Tsabit, “Bantahlah kaum Quraisy. Sungguh bantahan kalian itu berpengaruh bagi mereka melebihi tusukan tombak.” Ucapan Rasulullah saw. itu membuat mereka berbinar-binar bahagia. Dengan segala kecakapan mereka berupaya menaati perintah beliau.

Pada suatu hari, saat bertemu Rasulullah saw., Abdullah ibn Ruwahah melantunkan syair:

Duhai keturunan Hisyam termulia, Allah mengutamakanmu atas semua makhluk dan tak ada yang bisa membandingimu Aku selalu berpikir balk tentangmu dengan firasat berbeda dari firasatku kepada mereka yang lalim dan sesat Jika kau meminta tolong pada sebagian mereka niscaya mereka takkan pernah sudi membantumu

Engkaulah Nabi, yang syafaatnya dinanti di hari kiamat Allah meneguhkan ajaran yang kau bawa sebagaimana Dia meneguhkan dan membantu Musa yang tercinta

Mendengar lantunan syair tersebut, Rasulullah saw. merasa senang dan bersabda kepada Abdullah, “Semoga Allah meneguhkanmu.”

Abdullah ibn Ruwahah juga dikenal sebagai sahabat yang sangat takwa dan warak. Jika bertemu seorang sahabat, ia akan memanggilnya dan berkata, “Mendekatlah, mari kita bicara tentang keimanan sebentar!”

Ia juga mumpuni dalam urusan berkuda dan bertarung. Ketangguhan dan ketangkasannya sangat terkenal di setiap medan perang. Di Perang Badar, ia dan kedua putra Afra berderap maju untuk meladeni tantangan duel dari pemuka musyrik, yaitu al-Walid ibn Utbah dan ayahnya sendiri Utbah serta pamannya Syaibah. Namun, ketiga orang Quraisy itu menolak menghadapi mereka. Ketiganya bersikukuh ingin bertarung melawan para sahabat Muhajirin. Akhirnya, mereka tewas di tangan Ali, Hamzah, dan Ubaidah ibn al-Harits. Perang Badar telah membawa kemenangan besar bagi kaum muslim.

Selain Perang Badar, Abdullah ibn Ruwahah juga turut serta dalam peperangan lain, termasuk Perang Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar. Ketika Rasulullah saw. memasuki Makkah untuk melaksanakan umrah, dialah yang menuntun

rali kekang unta beliau. Sambil menuntun unta itu ia melantunkan syair:

Hai kaum kafir, kosongkan jalan untuknya kosongkanlah dan setiap kebaikan ada pada sang rasnl Ya Tuhanku, aku beriman pada semua perkataannya Aku tabu, mengakui dan menerimanya adalah hak Allah Akan kami perangi kalian, hai kafir, berdasarkan takwilnya Akan kami perangi kalian, hai kafir, berdasarkan kitabnya

Mendengar lantunan syairnya, Umar ibn al-Khattab r.a. berkata, “Bagaimana bisa di sana, hai Ibnu Ruwahah, di tanah haram dan di hadapan Rasulullah kau berani melantunkan syair?”

Mendengar teguran Umar kepada Abdullah, Rasulullah saw. bersabda, “Biarkan dia, hai Umar! Demi Zat yang menguasai diriku, perkataannya lebih tajam dan lebih membekas atas mereka (kaum Quraisy) melebihi tikaman tombak.”

Ketika mendengar firman Allah tentang kesesatan para penggubah syair,27 Abdullah mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, Allah mengetahui bahwa aku salah satu dari mereka (para penyair yang dusta).” la bertekad tidak akan lagi bersyair, tetapi Rasulullah saw. membacakan firman Allah berikutnya:

Kecuali orang ( penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.

Abdullah kembali merasa senang dan tenang mendengar penuturan Rasulullah saw. Kemudian ia memandang wajah Rasulullah saw. dan berkata, “Bahkan seandainya tidak ada ayat-ayat yang menjelaskan, niscaya keindahannya mengabarkan berita kepadamu.”

Ketika Rasulullah saw. melaksanakan ‘umratul qadha, beliau bersabda kepada Abdullah ibn Ruwahah, “Turun dan gerakkan kendaraan (lantunkan syair )!” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan kata-kata itu (syair ).”

Mendengar jawaban tersebut, Umar ibn al-Khattab r.a. berkata, “Dengarkan dan taatilah.” Maka, Abdullah pun turun dan melantunkan syair:

Demi Allah, jika bukan karenamu, pasti kami takkan dapatkan petunjuk dan tak paham zakat juga shalat maka, ya Allah, limpahkan ketenangan kepada kami dan kukuhkan kaki kami ketika kami hadapi mereka sungguh mereka telah berbuat lalim dan aniaya jika mereka inginkan perang, kami layani mereka

Setelah melantunkan bait-bait itu, Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, kasihi dan ampunilah dia.” Umar r.a. pun menimpali, “Pasti ia masuk surga.”

Abu Darda pernah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari datangnya hari, yang di dalamnya aku tidak ingat Abdullah ibn Ruwahah. Setiap kali berpapasan denganku, ia terbiasa menepuk dadaku; setiap kali melihatku dari belakang, ia akan menepuk pundakku, lalu berkata, ‘Hai Uwaimir, duduklah dan marilah kita saling mengingat hadis tentang keimanan.’ Maka, kami pun duduk dan mengingat Allah, lalu ia akan berkata, ‘Hai Uwaimir, inilah majelis keimanan.’”

Berkat kesalehan dan kejujurannya, Abu Darda tertarik untuk memeluk Islam. Itu terjadi setelah kaum muslim kembali dari Perang Badar. Saat itu Abdullah hendak mengunjungi rumah Abu Darda dan ia membawa sebilah kapak. Ketika memasuki rumah sahabatnya itu, pandangan Abdullah tertuju pada sebuah berhala yang biasa disembah Abdu Darda. Tanpa basabasi lagi, Abdullah langsung menghancurkan berhala itu dengan kapaknya hingga menjadi serpihan kayu kecil. Abu Darda, tuan rumah sekaligus pemilik berhala itu, marah dan mempertanyakan tindakan kawannya itu. Maka Abdullah ibn Ruwahah menjelaskan sesatnya keyakinan Abu Darda selama ini. Ia menyembah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat. Tindakan Abdullah itu akhirnya menyadarkan Abu Darda sehingga ia berkata, “Seandainya patung itu memiliki kekuatan dan kebaikan pada dirinya, tentu ia bisa membela dirinya dari kerusakan.” Setelah itu ia minta diantar menemui Rasulullah saw. untuk bersyahadat.

Ibn al-Atsir menuturkan sebuah riwayat dari Ubaidillah ibn Ahmad ibn Ali dengan sanad yang bersambung kepada Yunus ibn Bukair dari Ibn Ishaq dari Abdullah ibn Abu Bakr ibn Hazm bahwa suatu hari Abdullah ibn Ruwahah berangkat menuju medan Muktah ditemani oleh Zaid ibn Arqam, seorang yatim yang menjadi tanggungannya.

Tengah malam, Zaid mendengar Abdullah melantunkan syair:

Jika kau membantu dan mengikuti perjalananku yang panjang Maka hadirmu adalah sukacita dan ketiadaanmu menjadi derita Sungguh aku takkan pernah menoleh dan berpaling ke belakang Kaum muslim datang dan menghampiriku di Syam, negeri tujuan Semua manusia menolakmu, tapi kau dekat kepada Sang Pemurah Berada di sana, aku tak lagi memedulikan apa atau siapa . pun juga

Mendengar lantunan syair tersebut Zaid menangis terisak. Abdullah menepuk pundak Zaid dan berkata, “Tak apa, jika Allah menjadikanku syahid, kau tetap hidup bersama keluarga dan kaumku.”

Ibn al-Atsir menuturkan sebuah riwayat dari Ibn Ishaq dari Muhammad ibn Ja‘far ibn al-Zubair dari Urwah ibn al-Zubair bahwa pada Perang Muktah Rasulullah memberi perintah agar semua pasukan mematuhi Zaid ibn Haritsah. Jika ia gugur, komando dipegang Ja‘far ibn Abu Thalib, jika Ja‘far gugur, komando digantikan oleh Abdullah ibn Ruwahah. Lalu, jika Abdullah juga gugur, hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai pimpinan.

Pasukan itu pun siap-siap berangkat. Mereka berpamitan kepada para pemimpin pasukan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw., tak terkecuali kepada Abdullah ibn Ruwahah. Ketika melihat Abdullah menangis, mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Ibn Ruwahah ?”

Ia menjawab, “Demi Allah, sedikit pun tak ada rasa cinta kepada dunia dalam diriku. Tapi, aku mendengar Rasulullah saw. membaca firman Allah, ‘Dan tidak ada seorang pun di antara kalian, kecuali mendatangi neraka itu. Sungguh bagi Tuhanmu, itu adalab kemestian yang sudah ditetapkan.’19 Sungguh aku tak tahu, apa yang kulakukan ketika memasukinya?”

Kaum muslim berkata, “Allah bersama kalian, dan Dia akan mengembalikan kalian kepada kami sebagai orang saleh dan akan membela kalian.”

Kemudian Abdullah berpamitan kepada Rasulullah. Seluruh pasukan kemudian berangkat menuju medan perang hingga mereka tiba di daerah Ma’an. Mereka mendengar kabar bahwa Kaisar Heraklius membawa seratus ribu pasukan Roma ditambah seratus ribu pasukan Arab. Pasukan muslim berhenti di Ma’an untuk beristirahat. Di sela-sela waktu, mereka berbincangbincang tentang perang yang akan mereka hadapi. Mereka berunding apakah akan melanjutkan perjalanan menuju Syam ataukah bertahan lebih dulu dan mengirim utusan ke Madinah meminta tambahan pasukan ? Pasukan muslim hanya berjumlah tiga ribu orang, sementara musuh yang akan dihadapi mencapai dua ratus ribu pasukan yang tangkas dan tangguh. Salah seorang pemimpin mengusulkan agar mereka berkemah dulu sambil meminta tambahan pasukan ke Madinah.

Namun, Abdullah ibn Ruwahah, sang panglima para penyair, berdiri di hadapan semua orang menjalankan tugasnya sebagai pembangkit semangat. Ia berseru dengan suara yang lantang, “Kita tidak memerangi musuh karena jumlah mereka, kita tidak menantang lawan karena kekuatan mereka, tetapi kita perangi musuh demi agama kita. Wahai kaumku, demi Allah, sesungguhnya kematian dan kesyahidan yang kalian inginkan akan kalian hadapi saat ini. Jalan menuju surga telah terbuka lebar. Para malaikat menantikan kalian. Saat ini, detik ini, kita perangi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat demi mempertahankan dan membela Islam, agama yang memuliakan hidup kita. Pergilah, berperanglah, karena hanya ada dua kebaikan menunggu kalian, kemenangan atau kesyahidan!”

Akhirnya pasukan muslim bergerak melanjutkan perjalanan menuju Bushra. Dari pihak yang berbeda, pasukan Romawi bergerak menyambut kedatangan pasukan muslim. Kedua pasukan yang sangat tidak berimbang itu bertemu di Muktah, dekat Qadisia.

Genderang perang dibunyikan. Kedua pasukan bertempur dengan hebat. Pasukan muslim dipimpin oleh Zaid Ibn Haritsah. Ia memegang panji Islam dengan kukuh. Namun seorang pemanah musuh melemparkan anak panahnya dan menjatuhkannya dari kuda. Ia terbunuh dalam serangan pertama itu. Panji kaum muslim terjatuh dan diambil alih oleh Ja'far ibn Abu Thalib. Ia loncat dari kudanya lalu maju menyerbu barisan musuh. Pedangnya bergerak kian ke mari menumbangkan musuh. Satu tangannya memegang panji kaum muslim sedang tangan lainnya membabatkan pedangnya. Setelah bertahan beberapa lama, seorang musuh membabat tangan kirinya sehingga panji Islam terlepas. Ja‘far menggunakan tangan kanannya untuk memegang panji seraya terus menerjang musuh dengan gagah berani. Namun tangan kanannya itu pun ditebas pedang musuh sehingga ia mendekap panji itu dengan pangkal kedua tangannya. Sabetan pedang musuh semakin banyak mengenai tubuhnya sehingga ia jatuh terkapar di atas tanah.

Abdussalam ibn al-Nu‘man ibn Basyir menuturkan bahwa ketika Ja‘far ibn Abu Thalib gugur, pasukan memanggil Abdullah ibn Ruwahah yang berada di sisi yang lain. Dengan sigap ia maju untuk memimpin pasukan dan bertempur gagah berani.

Ia berteriak memacu semangat dirinya:

Hai diri, jika kau tak membunuh, kau akan mati terbunuh. Inilah burung kematian telab melebarkan sayapnya, panas dan membara. Apa yang kau angankan telah tercapai. Jika kau mau melakukan seperti yang mereka berdua lakukan, niscaya kau dapatkan hadiah. Jika kau terlambat, pasti kau celaka.

Hai diri, apa kau khawatirkan? Istrimu? Sungguh ia akan berpisah. Pembantumu? Sungguh mereka adalah manusia merdeka. Atau, ladangmu? Sugguh semua itu bukan milikmu, melainkan milik Allah dan rasul.

Hai diri, jika kau tak mau masuk surga, aku bersumpah akan memasukinya. Jika kau tak man taat, padahal kau telah lama menikmati biditp tenang, berarti kau hanyalah setitik air yang tertuang sedikit demi sedikit

Diriwayatkan oleh Mush‘ab ibn Umair bahwa dalam peperangan itu Abdullah ibn Ruwahah tertusuk tombak sehingga darah mengucur deras dari lukanya. Ia sapukan darah itu ke wajahnya, lalu ia berlari menyeruak di antara dua barisan sambil berteriak, “Hai sekalian muslim, menjauhlah dari daging saudara kalian!” Mereka pun menyingkir dan membiarkannya menjemput kesyahidan.

Yunus ibn Bukair menuturkan riwayat dari Ibn Ishaq bahwa ketika kaum muslim berperang di Muktah, dan mereka didesak musuh, Rasulullah, yang berada di Madinah, berkata di hadapan para sahabat, “Zaid ibn Haritsah memegang panji dan berperang memimpin pasukan sampai ia gugur sebagai syahid. Kemudian Ja‘far ibn Abu Thalib meraih panji itu, lalu berperang dan gugur sebagai syahid.” Tiba-tiba Rasulullah saw. terdiam hingga wajah para sahabat berubah semakin cemas. Mereka mengira terjadi sesuatu yang buruk pada Abdullah ibn Ruwahah. Rasul melanjutkan, “Kemudian Abdullah ibn Ruwahah mengambil panji itu dan ia bertempur sampai gugur sebagai syahid. Kemudian mereka diangkat (dan diperlihatkan ) kepadaku. Aku melihat mereka di surga seperti melihat orang yang tidur di atas ranjang emas. Aku lihat ranjang Abdullah ibn Ruwahah condong ke arah ranjang dua sahabatnya. Aku pun berkata, ‘Kenapa ini (terjadi ) ?’ Dikatakan kepadaku, ‘Mereka berdua telah gugur.’ Dan Abdullah terus mengulang-ulang, kemudian ia berlalu dan gugur.’

Diriwayatkan dari Ibn Jarir al-Thabari bahwa Rasulullah saw. naik ke mimbar lalu berseru, “ Asshalatu jami'a! (shalatlah berjamaah!).” Mendengar seruan beliau, semua orang berkumpul dekat Rasulullah saw., yang kemudian bersabda, “Pintu kebaikan, pintu kebaikan, pintu kebaikan! Aku hendak menceritakan keadaan tentara kalian yang sedang berperang. Setelah berangkat, mereka bertemu musuh. Zaid gugur sebagai syahid—lalu Rasul memohonkan ampunan untuknya. Kemu - dian Ja‘far mengambil panji dan memimpin pasukan sampai gugur sebagai syahid—Rasul bersaksi akan kesyahidannya dan memohonkan ampunan untuknya. Lalu Abdullah ibn Ruwahah mengambil alih panji. Ia bertarung tanpa henti hingga gugur sebagai shayid—beliau pun memohonkan ampunan untuknya. Kemudian Khalid ibn al-Walid mengambil alih bendera.

Saat itu pasukan muslim terdesak hebat. Barisan mereka porak poranda. Mereka putuskan untuk mundur sebelum pasukan Romawi membinasakan mereka semua. Para pemimpin sepakat menyerahkan komando dan panji Islam kepada Khalid ibn al-Walid. Keesokan harinya, Khalid mengubah formasi. Barisan yang tadinya berada paling depan ia tarik ke belakang, dan pasukan sayap kanan dipindahkan ke sayap kiri, begitu pun sebaliknya. Lalu mereka bergerak maju menyerang musuh dan berupaya mendesak mereka ke padang pasir. Perubahan formasi pasukan itu mengagetkan musuh. Mereka mengira pasukan muslim mendapat tambahan pasukan dengan jumlah yang berlipat-lipat. Pasukan musuh yang jumlahnya sangat besar itu terdesak hebat ke arah padang pasir. Pasukan Muslim kini berada di atas angin. Secara perlahan pasukan Romawi terdesak mundur. Peperangan semakin sengit. Jumlah musuh yang besar dihadapi dengan keberanian dan semangat juang yang tak terbatas. Pasukan Khalid terus mendesak. Ia ingin memberikan

ruang yang cukup luas untuk pasukannya. Ia tidak mau terjepit musuh seperti yang dialami kemarin. Kini, pasukan Romawi dihadapkan pada dua pilihan: mengerahkan seluruh pasukan mendesak pasukan muslim, atau berperang habis-habisan di padang pasir yang panas memanggang. Mereka memutuskan untuk menghindari perang terbuka di padang pasir karena situasi itu menguntungkan pasukan Arab. Mereka menghindari serangan dan menarik mundur pasukan. Khalid berhasil menyelamatkan pasukannya setelah sebelumnya nyaris musnah binasa, seluruhnya. Ia memutuskan untuk mundur dan kembali ke Madinah.

Namun, Abdullah ibn Ruwahah tidak pernah kembali lagi ke Madinah. Semoga Allah merahmatinya.

Artikel Terkait