Selasa, 21 Januari 2025

Abdurrahman ibn Abu Bakr Al-Shiddiq

Abdurrahman ibn Abu Bakr Al-Shiddiq seorang sahabat Nabi saw. sekaligus putra sahabat terkemuka yang sangat dicintai Nabi saw. dan orang dewasa pertama yang memeluk Islam. Adalah Abu Bakr, ayahanda Abdurahman, yang menemani Nabi saw. saat beliau berhijrah ke Madinah. Dialah yang menemani Nabi saw. selama bersembunyi di gua Tsur

Pada masa Jahiliah, Ummu Ruman bint Amir ibn Uwaimir menikah dengan Abdullah ibn al-Harits ibn Sukhrabah alAzadi. Dari perkawinan itu mereka dikarunia seorang putra bernama al-Thufail. Setelah Abdullah ibn al-Harits wafat, Ummu Ruman menikah lagi dengan Abu Bakr al-Shiddiq. Dari perkawinan itu lahir Aisyah Ummul Mukminin dan Abdurrahman ibn Abu Bakr. Sebelum memeluk Islam, namanya adalah Abdul Ka‘bah. Setelah masuk Islam, Nabi saw. mengganti namanya menjadi Abdurrahman.

Pada saat Perang Badar, Abdurrahman berada di barisan Quraisy. Di medan perang itu ia melihat sendiri kehancuran pasukan musyrik Quraisy dan tewasnya para pemimpin mereka. Selain tewas terbunuh, banyak pula pasukan musyrik yang digiring ke Madinah sebagai tawanan.

Ketika Perang Uhud berkecamuk, Abdurrahman masih berada dalam barisan musyrik. Ia menghunus pedang dan menantang kaum muslim untuk berduel. Dengan suara lantang ia berteriak, “Siapa di antara kalian yang berani meladeniku ? ”

Abu Bakr terkesiap karena mengenal suara yang lantang itu. Itu suara anaknya, Abdul Ka‘bah. Abu Bakr r.a. langsung menghunus pedang dan bersiaga untuk melayani tantangan putranya sendiri, tetapi Rasulullah saw. mencegahnya.

Rasulullah saw. menahan Abu Bakr karena tak mau terjadi pertumpahan darah antara anak dan bapak sebagaimana yang terjadi dalam Perang Badar ketika Abu Ubaidah ibn al-Jarrah membunuh ayahnya sendiri yang berada di barisan tentara kafir. Nabi saw. tak mau peristiwa itu terulang.

Perang Uhud dimenangkan oleh kaum musyrik, karena pasukan pemanah muslim tidak menaati perintah Rasulullah saw. untuk tetap diam di posisi mereka apa pun yang terjadi. Kejadian itu merupakan kejadian terkelam dalam sejarah kemunculan Islam dan menjadi pelajaran berharga agar mereka tidak lagi berani melanggar perintah Nabi.

Mahabesar Allah, jika Dia menghendaki sesuatu, pasti terjadi. Allah menancapkan benih keimanan dalam hati Abdurrahman putra al-Shiddiq. Suatu hari ia berangkat ke Madinah dan mengucapkan syahadat di hadapan Rasulullah. Setelah itu, ia berkeliling Madinah dan mengumumkan keislamannya kepada penduduk kota.

Ketika Abu Bakr melihat putranya memasuki masjid, wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan. Terlebih lagi ketika putranya itu mengulurkan tangan sebagai tanda baiat kepada Rasulullah saw., Abu Bakr tak dapat menahan haru, air mata bahagia mengalir di pipinya mengiringi rasa syukur melihat putranya telah menempuh jalan kebenaran. Setelah itu, Rasulullah saw. mengganti namanya menjadi Abdurrahman. Peristiwa itu terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah. Kini, seluruh kekuatan dan kemampuan Abdurrahman dicurahkan demi kepentingan Islam dan kaum muslim. Ia pun berjuang dengan gigih memerangi kaum musyrik.

Kearifan Islam berpengaruh besar terhadap kepribadian Abdurrahman. Kini, ia bersemangat membela agamanya dan semakin hari rasa keterikatannya terhadap Islam semakin kuat, terutama ketika ia mendengar panggilan jihad.

Saat Perang Yamamah berkecamuk, Abdurrahman bergabung dalam pasukan muslim di bawah pimpinan Khalid ibn al-Walid untuk memerangi si pembuat fitnah Musailamah alKadzab. Abdurrahman tak berhasil membunuh Musailamah, tetapi tangan pembantu setianya, yaitu Muhakkam ibn alThufail, tak dapat menghindari sabetan pedang Abdurrahman hingga ia tewas terkapar. Musailamah dibunuh oleh Wahsyi ibn Harab sehingga berakhir pula fitnah yang disebarkannya.

Abdurrahman memiliki suara yang lantang dan keras, apalagi ketika menghadapi orang yang menentang kebenaran. Saat Muawiyah mengirim surat perintah kepada Marwan, gubernur Madinah, agar membaiat dan bersumpah setia kepada putranya, Yazid, Abdurrahman berdiri di depan masjid dan berkata lantang, “ Demi Allah, kalian memilih bukan orang terbaik untuk memimpin umat Muhammad. Kini, kalian ingin menjadikan mereka seperti kaisar Roma, ketika seorang kaisar mati, ia digantikan kaisar lainnya.”

Ketika Muawiyah mendengar perkataan Abdurrahman, ia mengirim uang seribu dirham untuk melembutkannya, tetapi Abdurrahman menolaknya. la berkata kepada utusan Muawiyah,

“Katakan kepadanya bahwa Abdurrahman tidak pernah menjual agamanya untuk dunia.” Tidak lama berselang setelah penolakan itu, Abdurrahman mendengar bahwa Muawiyah bertolak menuju Madinah. Karena enggan bertemu, Abdurrahman memilih pergi ke Makkah. Namun, belum lagi tiba di Makkah, kematian ajal menjemputnya. Semoga Allah merahmatinya.

Artikel Terkait